Kreatifitas itu spiritual (II) : berdamai dengan persepsi, memori dan ekspektasi

S

alah satu yang pertama-tama kita harus ajak “ngobrol” dalam merebut kembali keyakinan kreatif kita adalah pikiran dan kesadaran: atau persisnya Persepsi.

Mengapa bisa begitu? Read more

Advertisements

Sindrom kélor, proximity dan liburan

Kélor syndrome, atau gejala menafsirkan (dan menggantikan) sesuatu kedalam perspektif yang sempit dan absolut seperti yang saya tulis disini, saya pikir ada hubungannya dengan Proximity, atau jarak. Semakin rutin, semakin dekat, semakin terlibat – semakin “tenggelam” kita dengan sesuatu, semakin besar kemungkinan kita menganggap sesuatu tersebut sebagai kebenaran yang absolut.

Witing tresno jalaran soko kulino“. Cinta tumbuh karena sering ketemu/ biasa bersama. Bahasa jawa punya istilah yang bagus tentang fenomena perseptif ini.

Tentu saja, Read more

Too much Design will kill you (1)

Terlalu banyak elemen (konten) didalam satu desain bisa mendistraksi pengguna dari elemen yang benar-benar paling
penting, yang menjadi “keyword“, frame of reference atau “pemikat” yang dibutuhkan ketika mengidentifikasi satu produk,
atau berhubungan dengan satu informasi. Coba anda ingat-ingat betapa seringnya anda sulit mencari satu barang, atau membaca satu informasi di media promosi tertentu karena ada terlalu banyak materi yang seolah berebut menarik perhatian anda disitu.

Terlalu banyak sketsa bisa memakan lebih banyak waktu, mendistraksi pada pseudo solusi (beberapa orang bereaksi berlebihan terhadap tampilan atau visual, ini bisa memicu solusi palsu), atau proses pemilihan (dan pengambilan keputusan) yang berbelit-belit (looping) yang menguras enerji, boros dan pastinya tidak efisien.

Terlalu banyak pertimbangan, apalagi yang didasarkan kepada opini dan asumsi, juga bisa menghadirkan “cripling“, efek
melumpuhkan dimana orang-orang bingung, takut, atau terdistraksi kepada bias dan miskonsepsi.

Dalam berbagai kelas di perkuliahan desain, “terlalu banyak desain” ini berlangsung melalui mekanisme dimana ada banyak
sekali “tugas” dan materi yang diberikan kepada para pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran – apakah seseorang
menguasai suatu skill, satu pengetahuan, dan apakah ada terdapat satu perubahan kreatif dari penguasaan tersebut –
jadi lebih sulit diakses dan para pihak pembelajar terjebak dalam semacam blunder yang berulang.

How come? kenapa bisa begitu? Read more

Apakah anak saya punya pandangan x-ray?

xrayvision

Ceritanya sore itu ketika saya hendak mengambil makanan dari kulkas, dede Tea (anak saya, 4 tahun) nampak lagi asyik memotong-motong sesuatu.

“Dede Tea lagi apa?,” tanya saya seperti biasa.

“Ngeguntingin angka,” katanya.

Yang disebut sebagai “angka” itu sebetulnya poster belajar angka. Itu lho, poster belajar angka (dan huruf) sederhana yang sering dijual di toko buku atau emperan. Kebetulan waktu itu kami mampir ke pasar kaget, dan mem”borong”nya, lengkap dengan poster belajar huruf, alfabet dan arab. Poster-poster itu kami tempel di bagian belakang lemari sebelah kulkas, lengkap dengan gambar-gambar karya dede Tea. Nggak ada maksud apa-apa sebetulnya selain cuman mau mengenalkan. Jarang sekali poster itu kami bahas khusus kecuali memang dede Tea menginginkannya.

“Buat apa?,” tanya saya penasaran.

“Buat dimainin.” Jawab dede Tea.

Alah, ada apa lagi nih? tanya saya dalam hati, sambil was-was.

Perasaan kok nggak enak yaa… :).

Dan benar saja … Read more

The (over) symbolism drama of design

“Saya pasang siluet wanita berjilbab soalnya novelnya membahas mengenai wanita muslim… saya pasang objek dekoratif di belakangnya juga untuk menyimbolkan sesuatu yang feminin …”

Saya ingat betul kalimat yang disampaikan salah satu pelamar desainer kover tersebut ketika suatu saat saya menanyakan objek apa itu yang ada di desainnya dan mengapa beliau merancang kovernya seperti itu?. Penjelasan yang mengingatkan saya sama banyak pelajar dan beberapa desainer profesional ketika mencoba merancang logo, poster, brosur atau produk-produk desain lainnya.

“gambar ini saya pakai untuk menyimbolkan … “

“Jadi, konsep filosofis logo ini adalah , blah, blah blah.

Gestur yang mengingatkan saya pada momen-momen sulit ketika saya diminta menjelaskan kepada banyak orang di organisasi yang menjadi klien saya mengapa saya memutuskan untuk me-redesain (mengganti dan menerbitkan panduan pemakaian) tipografi logonya dengan huruf tidak berserif (waktu itu ada sekitar 4 jenis huruf serif yang dipakai secara tidak konsisten oleh berbagai
personel) semata-mata agar lebih mudah dibaca dan digunakan, bukan demi simbolisasi dan “konsep filosofis” yang pelik.

Read more

Cara ampuh meng-hack kreatifitas staff anda

ijin buat inisiatif

Pertama, tidak memberikan kesempatan sama sekali. Kedua, menimpakan kesalahan. Ketiga, memberikan kesempatan, anda tinggalkan, lalu anda timpakan kesalahan.

Ketiganya punya satu kesamaan: asumsi. Asumsi bahwa staff anda tidak akan mampu, asumsi bahwa semuanya akan membaik dengan sendirinya dan dalam waktu relatif cepat, asumsi bahwa realitas selalu sesuai dengan yang anda pikirkan dan apa yang disebut “kebenaran” selalu berasal dari anda. Ketiganyapun juga punya satu kesamaan: inisiatif dan kreatifitas menghilang bahkan ketika dielu-elukan.

Ingat momen-momen ketika anda begitu frustasi kenapa staff anda tidak ada yang cukup reliable, dan kreatif? Well, mungkin mereka sudah kreatif sejak dulu tapi anda tidak dapat melihatnya karena terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, dan tanpa sadar menghack mereka. Berulang kali.

ps: emang siih ada juga staff yang ‘rese’ & pemalesan. Tapi jumlahnya biasanya lebih sedikit. Kalaupun emang banyak, kenapa juga orang kayak gitu bisa direkrut?

Kélor Syndrome: a counter showcase (part-2)

Naah, sekarang kita simak beberapa bukti berikutnya bahwa sindrom Kélor (seperti yang saya tulis bagian pertama, dan definisi ini) itu ada dan sesungguhnya sesuatu yang bias, lebay dan keliru.

Kali ini sampelnya adalah logo yang telah berpuluhan tahun, terbukti bekerja dengan baik:

Rolling Stone

rolling-stones-lips-logo
Ketika diminta untuk merancang logo grup musik, sebagian besar pelajar dan desainer yang saya tahu, mengambil simbol yang secara eksplisit berhubungan dengan musik atau permusikan. Beberapa mengambil gambar alat musik, beberapa lagi simbol-simbol permusikan seperti notasi, atau lainnya. Disini bisa keliatan betapa kreatifnya John Pasche sang desainer logo Rolling Stone ini. Alih-alih mengambil simbol-simbol eksplisit tersebut (yang kedepan mungkin akan menjadikannya kurang khas), sang desainer berfokus pada mulut dowernya mick jagger, elemen visual yang personal dan extremely rare untuk dijadikan simbol grup musik.

Read more

Komunikasi tidak sama dengan menyampaikan informasi – part 1

Saya tidak tahu dengan anda, namun sepanjang pengalaman saya menekuni desain komunikasi, banyak sekali kasus “blunder” dalam perancangan berbagai media, manajemen dan hal-hal strategis sehubungan dengan komunikasi, yang kelihatannya berakar dari definisi – atau tepatnya persepsi kita mengenai definisi komunikasi yang terlalu sempit, hanya sebagai “proses penyampaian pesan/informasi dari komunikator ke komunikan”.

Maksud saya, definisi ini memungkinkan banyak media media dan strategi komunikasi dirancang satu arah – dengan memposisikan pengguna sebagai objek, bukan subjek yang aktif. Padahal, komunikasi itu selalu bersifat interaktif – dua arah, dan (re)kreatif. Read more

Kélor Syndrome: a counter showcase (part-1)

Bookmark tulisan ini, sehingga bila ini terjadi pada anda, team desain, atau proyek desain anda, anda bisa langsung ingat, sadar dan saling menyadarkan. Mudah-mudahan.

Sampel-sampel di bawah ini sebagian kecil saja dari banyak sekali desain kemasan produk yang telah eksis dan dikonsumsi puluhan tahun oleh masyarakat umum yang pada dasarnya menunjukkan kebalikan dari sindrom Kélor:

Read more

Kélor what?

Kélor syndrome / Sindrom Kélor adalah istilah untuk menandai satu situasi ketika seseorang mempersepsikan sesuatu dalam kemungkinan yang sempit, over generalistik, dan bersifat absolut (menetap atau akan selalu begitu). Ini idiom bikinan saya sendiri – Fahmi – yang dikembangkan dari pepatah Indonesia “Dunia tidak selebar daun kelor”, dengan arti yang kurang lebih sama.

Misal: Karena banyak kursi itu berkaki empat, seseorang yang terkena Sindrom Kélor dapat menyangka semua kursi itu berkaki empat – dan harus selalu berkaki empat. Nyatanya, meskipun memang sebagian besar kursi berkaki empat, tidak semua kursi itu berkaki empat. Banyak kursi, mempunyai kaki kurang dari empat,

Read more