Berpikir kreatif vs menjadi kreatif

Banyak orang memandang kreatifitas sebagai serangkaian kemampuan berpikir. Diluar kebiasaan, otentik, divergen (menyebar), holistik, dan lainnya. Dalam perjalanannya menjadi kreatif, orang-orang kemudian mengasosiasikan berpikir kreatif sebagai bagian paling penting didalam kreatifitas. Bahwa kalau saya ingin menjadi menjadi kreatif maka saya harus sedemikian rupa me”maksa” pikiran saya agar berpikir kreatif, seperti itu.

Beberapa ada yang survive, kebanyakan ber”gelimpangan”. Terlalu tenggelam di dalam pikiran so-called creative, sehingga bahkan menjadi tidak (atau kurang) kreatif, atau bahkan traumatis dengan kreatifitas. Berkeringat, bereaksi berlebihan, dan atau gentar begitu mendengar hanya istilahnya saja.

Kenapa bisa begitu? Read more

CEO vs Anak TK, siapa yang bisa membangun menara paling tinggi?

Beberapa grup desainer, arsitek, CEO (dan staff eksekutifnya), lawyer, alumni sekolah bisnis dan anak-anak TK diminta untuk melakukan tantangan sederhana: dalam waktu 18 menit membangun menara setinggi mungkin dari 20 batang spaghetti, satu gulung benang, satu gulung selotip dan satu buah marshmallow (untuk ditempatkan di puncaknya). Siapa yang jadi pemenang dan seperti apa dinamika pencapaiannya?

Read more

Setiap harinya, seorang anak menanyakan rata-rata 390 pertanyaan

100, 390 , 40, ada beberapa versi mengenai jumlahnya namun lepas dari itu – seperti yang dirasakan oleh semua orang tua di dunia ini – anak-anak itu banyak bertanya. Benak mereka itu penuh dengan rasa ingin tahu yang jujur dan bersungguh-sungguh.

Begitu menginjak dewasa, bersekolah (beberapa kali menempuh pendidikan formal), berorganisasi, mendapatkan eksposur dari berbagai media, bekerja (dan somehow memberikan kontribusi terhadap angkatan kerja, ekonomi, politik dan lain sebagainya), pertanyaan tersebut berkurang (beberapa bahkan menghentikannya). Mungkin karena mereka sudah menemukan jawabannya, mungkin karena mereka tidak berani, mungkin karena mereka tidak percaya diri, tidak merasa lagi bertanya dan mempertanyakan sebagai sesuatu yang penting, sesuatu yang berharga.

Dalam waktu bersamaan, banyak bisnis mengeluhkan hilangnya kreatifitas dalam angkatan kerja, berbagai organisasi mengeluhkan mengenai minimnya semangat dan populasi intrepreneur, banyak pengajar mengeluhkan semakin sedikitnya motifasi untuk belajar, banyak orang tua mengeluhkan betapa anak-anaknya sulit berpikir kreatif dalam bekerja atau mengembangkan kesejahteraan.

Bisa kelihatan hubungannya?

 

Peta kecerdasan majemuk

Kali ini saya bakal nyatetin daftar kecerdasan/ kecakapan majemuk selain kognisi visual. Mudah-mudahan bisa membantu para orang tua pembaca blog ini dalam mengenali kecakapan khas yang berkembang di para putra/putrinya, atau mungkin juga dalam “membaca” dinamika kecerdasan yang (sejak jauh-jauh hari sebetulnya sudah dimiliki di) diri sendiri atau orang-orang sekitarnya:

  1. Musik-ritme-dan harmoni: kecerdasan dalam memproses suara, nada, ritme dan lagu.
  2. Visual-Spatial: kecerdasan dalam memproses elemen visual, ruang dan ruangan.
  3. Verbal-Linguistik: kecerdasan dalam bahasa verbal, meliputi membaca, menuliskan, melafalkan, memproses bahasa majemuk, aksen dan lain sebagainya
  4. Logika-Matematika: kecerdasan dalam menghubungkan, mengaitkan satu hal kepada hal lainnya, dan melakukan “pengukuran” (seriously, saya kenal dengan seorang anak yang kelihatannya untuk beliau menggambar itu seperti membuat matriks geometrik, dimana bagian demi bagiannya seolah di”rancang” sedemikian rupa supaya – bukan hanya cantik dan atraktif – namun juga bisa terukur dan terkontrol oleh sang penggambar)
  5. Bodily-Kinestetik: kecerdasan motorik. Meliputi motorik kasar, halus, termasuk juga bahasa tubuh.
  6. Interpersonal: kecerdasan dalam berhubungan dengan orang lain
  7. Intrapersonal: kecerdasan dalam berhubungan dengan diri sendiri, melalukan (r)evaluasi, pemahaman diri, etc
  8. Naturalistik: kecerdasan dalam memproses lingkungan alam di sekitarnya
  9. Eksistensial: kecerdasan dalam memproses spiritualitas.

Semua anak (Subhanallah!) pada dasarnya telah dibekali bukan hanya satu, namun semua kemampuan universal di atas sejak bayi. Namun memang porsi dan komposisinya seringkali berbeda sehingga satu anak mungkin lebih dominan di beberapa elemen, sementara anak lain di beberapa elemen yang berbeda.

Yang tidak kalah menakjubkannya adalah, seperti yang dialami lebih intens oleh Temple Grandin (dengan lebih berkembangnya kognisi visual) dan banyak pengidap autis lainnya, keterbatasan satu atau beberapa kecakapan tertentu seringkali memicu – entah itu disadari atau tidak – meningkatnya perkembangan kecakapan yang lain.

Informasi lebih jauh bisa disimak dari lama wikipedia, dan dari website Howard Gardner ini.

Selamat “membaca”.

Apakah anak saya punya pandangan x-ray?

xrayvision

Ceritanya sore itu ketika saya hendak mengambil makanan dari kulkas, dede Tea (anak saya, 4 tahun) nampak lagi asyik memotong-motong sesuatu.

“Dede Tea lagi apa?,” tanya saya seperti biasa.

“Ngeguntingin angka,” katanya.

Yang disebut sebagai “angka” itu sebetulnya poster belajar angka. Itu lho, poster belajar angka (dan huruf) sederhana yang sering dijual di toko buku atau emperan. Kebetulan waktu itu kami mampir ke pasar kaget, dan mem”borong”nya, lengkap dengan poster belajar huruf, alfabet dan arab. Poster-poster itu kami tempel di bagian belakang lemari sebelah kulkas, lengkap dengan gambar-gambar karya dede Tea. Nggak ada maksud apa-apa sebetulnya selain cuman mau mengenalkan. Jarang sekali poster itu kami bahas khusus kecuali memang dede Tea menginginkannya.

“Buat apa?,” tanya saya penasaran.

“Buat dimainin.” Jawab dede Tea.

Alah, ada apa lagi nih? tanya saya dalam hati, sambil was-was.

Perasaan kok nggak enak yaa… :).

Dan benar saja … Read more

Metacognition & small thing that never was

metakognisi

Tahukah anda? ketika kita melakukan sesuatu, kita seringkali mengaktifkan setidaknya dua level pikiran. Satu level untuk memikirkan tugas atau permasalahan yang ada di hadapan kita, satu lagi untuk memikirkan mengenai pemikiran tersebut. Jadi, ketika seorang anak bermain petak umpet misalnya, dia mengaktifkan satu level pikiran untuk mencari lokasi persembunyian lawannya (yang pada dasarnya mengaktifkan berbagai elemen berpikir seperti suara, visual, memori, dan lain sebagainya), dan bisa juga level yang lain untuk memikirkan proses pencarian yang dilakukannya tersebut.

Metakognisi, atau “pikiran mengenai pikiran” ini adalah kecakapan yang bersifat umum yang berarti pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia normal, namun juga bersifat khusus dalam artian setiap orang mungkin mendapatkannya dalam porsi yang berbeda, tergantung dengan kualitas hubungan diantara keduanya. Jadi memang, tidak lantas karena seorang anak yang bermain petak umpet maka anak tersebut melakukan meta kognisi, dan juga tidak lantas semua anak melakukan meta kognisi melalui elemen dan kedalaman yang sama.

Namun, lepas dari seperti apa detail dari masing-masing dinamika, meta kognisi adalah satu lagi bukti mengenai bagaimana hal yang sepintas kecil dan sepele itu, sesungguhnya sudah begitu rumit, dan tidak pernah tidak berharga.

 

Label Replacement project -Bagaimana membuat anak mau minum obat tanpa terpaksa

Usage warranty:
Saya tidak sedang menyarankan penggunaan dan tidak bertanggung jawab terhadap replikasi penggunaan teknik ini oleh siapapun. Obat yang saya gunakan di cerita ini adalah obat yang diresepkan oleh dokter untuk diminum oleh anak saya.

Ini cerita sekitar dua tahun yang lalu. Ketika dede Tea berusia sekitar dua tahunan.

Waktu itu ceritanya dede Tea sakit. Batuk-batuh dan ileran. Kami membawanya ke dokter dan dokter memberikan beberapa obat, salah satunya adalah obat batuk sirup.

Obat batuk sirup ini adalah sejenis obat batuk dengan tampilan yang “sangat medis”. Dibungkus dalam botol kaca berwarna coklat berukuran sedang, ditutup kaleng putih berlogo produsen obat, dengan label kertas putih yang tidak ada elemen lain selain teks dan garis. Persis seperti sebuah tabel yang ada di label-label obat berpenampilan “medis” lainnya.

obat-01
Kurang lebih kayak obat-obat ini deh, tampilannya.

Kami percaya dengan obat dan dokter yang meresepkannya (ini dokter langganan kami). Masalahnya, dede Tea tidak mau meminumnya. Setiap kali dipanggil, dia akan menghindar – melanjutkan main sambil batuk-batuk dan ileran – dan kalaupun bisa ditangkap, dan berusaha “dipaksa” malah menangis – hal yang bisa menyulut naiknya suhu tubuh (demam).

Oh la la. What’s wrong? Apa yang harus dilakukan? Read more

Bagaimana mungkin seorang anak yang belum bisa membaca bisa memilih playlist?

Hari itu ceritanya, sesudah mandi dede Tea (nama anak saya, umurnya 4 tahun) ingin memainkan video Hi-5 kesukaannya. So, dia mengambil tablet dan menyalakannya. Saya memperhatikan diam-diam sambil melakukan hal lain.

Seperti biasa, begitu tablet dihidupkan dia bertemu dengan banyak ikon.

shot_000001

Dede Tea menggeser layar, mencari ikon pemutar video, dan menyentuhnya dua kali begitu menemukannya.Tidak ada thumbnail di aplikasi pemutar video tersebut. Yang ada hanyalah barisan teks yang tersusun berurutan. Alfabetis, dari atas ke bawah. Dede Tea nampak menggeser layar ke bawah.

tampilan pemutar video, yang ada hanya teks.
tampilan pemutar video, yang ada hanya teks.

“Dede lagi nyari lagu apa?” tanya saya. Sambil membathin,”gimana caranya dia bisa milih, baca aja belum bisa?“.

“Star”, jawab dede Tea, lantang.

Oya, Sebetulnya lagu yang dicarinya itu judulnya “Wish Upon A Star”, tapi dede Tea lebih sering memanggilnya sebagai “Star”, begitu saja. Karena lebih praktis mungkin.

“Yang ini nih,” katanya lagi, sambil meng-klik dua kali. Dan benar, video Hi-5 muncul, dan mulailah dede Tea menari-nari mengikuti koreografi sang presenter.

“Dede Tea tau dari mana yang tadi di teken itu lagu Star?”, tanya saya tercengang. “Kan ibu yang kasih tau”, jawabnya.”Lho, tapi dede Tea kan belon bisa baca?”, selidik saya. Habis, penasaran. Banget.

Tapi yah, gitu deh. Pada dasarnya memang nggak akan mungkin bisa menginterogasi anak seumuran itu. Pertanyaan saya nggak digubris, dede Tea sibuk, asyik jingkrak-jingkrak.

Bagaimana mungkin seorang anak yang belum bisa membaca bisa memilih playlist?

Read more