Struktur dan fraktal pikiran

Struktur visual itu, kalau cuman bisa eksis sebatas yang sudah saya tulis disini sepertinya gampang banget ya. Kita mungkin nggak akan pernah lupa, selalu akurat dan nggak akan pernah eror kalau ngerjain apa-apa. Nyatanya, ini gampang-gampang susah karena seperti bahasa yang lain (verbal, oral, teks) ini juga kita cerna berlapis-lapis.

Kita men”cerna” sesuatu sebagai satu susunan tertentu:

lol-1

yang dalam waktu yang (hampir) bersamaan, tanpa kita sadari benar, kita juga me”mecah”kannya kedalam berbagai susunan yang lebih kecil: Read more

Too much Design will kill you (1)

Terlalu banyak elemen (konten) didalam satu desain bisa mendistraksi pengguna dari elemen yang benar-benar paling
penting, yang menjadi “keyword“, frame of reference atau “pemikat” yang dibutuhkan ketika mengidentifikasi satu produk,
atau berhubungan dengan satu informasi. Coba anda ingat-ingat betapa seringnya anda sulit mencari satu barang, atau membaca satu informasi di media promosi tertentu karena ada terlalu banyak materi yang seolah berebut menarik perhatian anda disitu.

Terlalu banyak sketsa bisa memakan lebih banyak waktu, mendistraksi pada pseudo solusi (beberapa orang bereaksi berlebihan terhadap tampilan atau visual, ini bisa memicu solusi palsu), atau proses pemilihan (dan pengambilan keputusan) yang berbelit-belit (looping) yang menguras enerji, boros dan pastinya tidak efisien.

Terlalu banyak pertimbangan, apalagi yang didasarkan kepada opini dan asumsi, juga bisa menghadirkan “cripling“, efek
melumpuhkan dimana orang-orang bingung, takut, atau terdistraksi kepada bias dan miskonsepsi.

Dalam berbagai kelas di perkuliahan desain, “terlalu banyak desain” ini berlangsung melalui mekanisme dimana ada banyak
sekali “tugas” dan materi yang diberikan kepada para pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran – apakah seseorang
menguasai suatu skill, satu pengetahuan, dan apakah ada terdapat satu perubahan kreatif dari penguasaan tersebut –
jadi lebih sulit diakses dan para pihak pembelajar terjebak dalam semacam blunder yang berulang.

How come? kenapa bisa begitu? Read more

Metacognition & small thing that never was

metakognisi

Tahukah anda? ketika kita melakukan sesuatu, kita seringkali mengaktifkan setidaknya dua level pikiran. Satu level untuk memikirkan tugas atau permasalahan yang ada di hadapan kita, satu lagi untuk memikirkan mengenai pemikiran tersebut. Jadi, ketika seorang anak bermain petak umpet misalnya, dia mengaktifkan satu level pikiran untuk mencari lokasi persembunyian lawannya (yang pada dasarnya mengaktifkan berbagai elemen berpikir seperti suara, visual, memori, dan lain sebagainya), dan bisa juga level yang lain untuk memikirkan proses pencarian yang dilakukannya tersebut.

Metakognisi, atau “pikiran mengenai pikiran” ini adalah kecakapan yang bersifat umum yang berarti pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia normal, namun juga bersifat khusus dalam artian setiap orang mungkin mendapatkannya dalam porsi yang berbeda, tergantung dengan kualitas hubungan diantara keduanya. Jadi memang, tidak lantas karena seorang anak yang bermain petak umpet maka anak tersebut melakukan meta kognisi, dan juga tidak lantas semua anak melakukan meta kognisi melalui elemen dan kedalaman yang sama.

Namun, lepas dari seperti apa detail dari masing-masing dinamika, meta kognisi adalah satu lagi bukti mengenai bagaimana hal yang sepintas kecil dan sepele itu, sesungguhnya sudah begitu rumit, dan tidak pernah tidak berharga.