Kélor Syndrome: a counter showcase (part-2)

Naah, sekarang kita simak beberapa bukti berikutnya bahwa sindrom Kélor (seperti yang saya tulis bagian pertama, dan definisi ini) itu ada dan sesungguhnya sesuatu yang bias, lebay dan keliru.

Kali ini sampelnya adalah logo yang telah berpuluhan tahun, terbukti bekerja dengan baik:

Rolling Stone

rolling-stones-lips-logo
Ketika diminta untuk merancang logo grup musik, sebagian besar pelajar dan desainer yang saya tahu, mengambil simbol yang secara eksplisit berhubungan dengan musik atau permusikan. Beberapa mengambil gambar alat musik, beberapa lagi simbol-simbol permusikan seperti notasi, atau lainnya. Disini bisa keliatan betapa kreatifnya John Pasche sang desainer logo Rolling Stone ini. Alih-alih mengambil simbol-simbol eksplisit tersebut (yang kedepan mungkin akan menjadikannya kurang khas), sang desainer berfokus pada mulut dowernya mick jagger, elemen visual yang personal dan extremely rare untuk dijadikan simbol grup musik.

Read more

Kélor what?

Kélor syndrome / Sindrom Kélor adalah istilah untuk menandai satu situasi ketika seseorang mempersepsikan sesuatu dalam kemungkinan yang sempit, over generalistik, dan bersifat absolut (menetap atau akan selalu begitu). Ini idiom bikinan saya sendiri – Fahmi – yang dikembangkan dari pepatah Indonesia “Dunia tidak selebar daun kelor”, dengan arti yang kurang lebih sama.

Misal: Karena banyak kursi itu berkaki empat, seseorang yang terkena Sindrom Kélor dapat menyangka semua kursi itu berkaki empat – dan harus selalu berkaki empat. Nyatanya, meskipun memang sebagian besar kursi berkaki empat, tidak semua kursi itu berkaki empat. Banyak kursi, mempunyai kaki kurang dari empat,

Read more

Audiens menghafal logo, bukan memikirkannya

Menghafal berbeda dengan memikirkan.  Ketika kita menghafalkan sesuatu, wajah seseorang misalnya, meskipun kita mungkin – dalam level tertentu – memikirkannya, sebagian besar kita lakukan tanpa sadar. Kita bisa tetap tidak mengerti mengapa dan bagaimana seseorang bisa memiliki wajah seperti itu.

On the other side, Ketika kita memikirkan sesuatu, kita melakukannya secara sadar. Ketika kita memikirkan wajah seseorang, kita mengakses berbagai data yang kita miliki mengenai hal tersebut, mengerahkan berbagai instrumen berpikir kita, sebagian besar secara sadar. Read more