Apakah anak saya punya pandangan x-ray?

xrayvision

Ceritanya sore itu ketika saya hendak mengambil makanan dari kulkas, dede Tea (anak saya, 4 tahun) nampak lagi asyik memotong-motong sesuatu.

“Dede Tea lagi apa?,” tanya saya seperti biasa.

“Ngeguntingin angka,” katanya.

Yang disebut sebagai “angka” itu sebetulnya poster belajar angka. Itu lho, poster belajar angka (dan huruf) sederhana yang sering dijual di toko buku atau emperan. Kebetulan waktu itu kami mampir ke pasar kaget, dan mem”borong”nya, lengkap dengan poster belajar huruf, alfabet dan arab. Poster-poster itu kami tempel di bagian belakang lemari sebelah kulkas, lengkap dengan gambar-gambar karya dede Tea. Nggak ada maksud apa-apa sebetulnya selain cuman mau mengenalkan. Jarang sekali poster itu kami bahas khusus kecuali memang dede Tea menginginkannya.

“Buat apa?,” tanya saya penasaran.

“Buat dimainin.” Jawab dede Tea.

Alah, ada apa lagi nih? tanya saya dalam hati, sambil was-was.

Perasaan kok nggak enak yaa… :).

Dan benar saja … Read more

Advertisements

Metakognisi di lingkungan kerja

Pernah nggak ngamatin bagaimana satu orang staff, partner atau kenalan anda bisa lebih cepat dan lancar mengerjakan sesuatu
sementara yang lainnya tidak? Read more

Kélor Syndrome: a counter showcase (part-2)

Naah, sekarang kita simak beberapa bukti berikutnya bahwa sindrom Kélor (seperti yang saya tulis bagian pertama, dan definisi ini) itu ada dan sesungguhnya sesuatu yang bias, lebay dan keliru.

Kali ini sampelnya adalah logo yang telah berpuluhan tahun, terbukti bekerja dengan baik:

Rolling Stone

rolling-stones-lips-logo
Ketika diminta untuk merancang logo grup musik, sebagian besar pelajar dan desainer yang saya tahu, mengambil simbol yang secara eksplisit berhubungan dengan musik atau permusikan. Beberapa mengambil gambar alat musik, beberapa lagi simbol-simbol permusikan seperti notasi, atau lainnya. Disini bisa keliatan betapa kreatifnya John Pasche sang desainer logo Rolling Stone ini. Alih-alih mengambil simbol-simbol eksplisit tersebut (yang kedepan mungkin akan menjadikannya kurang khas), sang desainer berfokus pada mulut dowernya mick jagger, elemen visual yang personal dan extremely rare untuk dijadikan simbol grup musik.

Read more

Metacognition & small thing that never was

metakognisi

Tahukah anda? ketika kita melakukan sesuatu, kita seringkali mengaktifkan setidaknya dua level pikiran. Satu level untuk memikirkan tugas atau permasalahan yang ada di hadapan kita, satu lagi untuk memikirkan mengenai pemikiran tersebut. Jadi, ketika seorang anak bermain petak umpet misalnya, dia mengaktifkan satu level pikiran untuk mencari lokasi persembunyian lawannya (yang pada dasarnya mengaktifkan berbagai elemen berpikir seperti suara, visual, memori, dan lain sebagainya), dan bisa juga level yang lain untuk memikirkan proses pencarian yang dilakukannya tersebut.

Metakognisi, atau “pikiran mengenai pikiran” ini adalah kecakapan yang bersifat umum yang berarti pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia normal, namun juga bersifat khusus dalam artian setiap orang mungkin mendapatkannya dalam porsi yang berbeda, tergantung dengan kualitas hubungan diantara keduanya. Jadi memang, tidak lantas karena seorang anak yang bermain petak umpet maka anak tersebut melakukan meta kognisi, dan juga tidak lantas semua anak melakukan meta kognisi melalui elemen dan kedalaman yang sama.

Namun, lepas dari seperti apa detail dari masing-masing dinamika, meta kognisi adalah satu lagi bukti mengenai bagaimana hal yang sepintas kecil dan sepele itu, sesungguhnya sudah begitu rumit, dan tidak pernah tidak berharga.

 

Thinking in Picture – Temple Grandin

Buku ini menceritakan pengalaman hidup Temple Grandin. Seseorang yang divonis mengidap autis sejak kecil, yang berbagai keterbatasan yang dimilikinya (emosional, sosial, psikologis dan lainnya, yang muncul entah itu karena kelainan atau efek dari pelabelan kelainan tersebut) mengantarkannya kedalam pengalaman menyentuh dalam mempelajari dan memanfaatkan imajinasi, kreatifitas dan berpikir visual.

Saya tidak menyadari begitu boros dan terlewatkannya hal ini sebagai sebuah “kecakapan” dan “berkah” sebelum membaca buku yang sederhana namun menyentuh ini:

Oya,

Read more

Kélor Syndrome: a counter showcase (part-1)

Bookmark tulisan ini, sehingga bila ini terjadi pada anda, team desain, atau proyek desain anda, anda bisa langsung ingat, sadar dan saling menyadarkan. Mudah-mudahan.

Sampel-sampel di bawah ini sebagian kecil saja dari banyak sekali desain kemasan produk yang telah eksis dan dikonsumsi puluhan tahun oleh masyarakat umum yang pada dasarnya menunjukkan kebalikan dari sindrom Kélor:

Read more

Kélor what?

Kélor syndrome / Sindrom Kélor adalah istilah untuk menandai satu situasi ketika seseorang mempersepsikan sesuatu dalam kemungkinan yang sempit, over generalistik, dan bersifat absolut (menetap atau akan selalu begitu). Ini idiom bikinan saya sendiri – Fahmi – yang dikembangkan dari pepatah Indonesia “Dunia tidak selebar daun kelor”, dengan arti yang kurang lebih sama.

Misal: Karena banyak kursi itu berkaki empat, seseorang yang terkena Sindrom Kélor dapat menyangka semua kursi itu berkaki empat – dan harus selalu berkaki empat. Nyatanya, meskipun memang sebagian besar kursi berkaki empat, tidak semua kursi itu berkaki empat. Banyak kursi, mempunyai kaki kurang dari empat,

Read more

Bagaimana mungkin seorang anak yang belum bisa membaca bisa memilih playlist?

Hari itu ceritanya, sesudah mandi dede Tea (nama anak saya, umurnya 4 tahun) ingin memainkan video Hi-5 kesukaannya. So, dia mengambil tablet dan menyalakannya. Saya memperhatikan diam-diam sambil melakukan hal lain.

Seperti biasa, begitu tablet dihidupkan dia bertemu dengan banyak ikon.

shot_000001

Dede Tea menggeser layar, mencari ikon pemutar video, dan menyentuhnya dua kali begitu menemukannya.Tidak ada thumbnail di aplikasi pemutar video tersebut. Yang ada hanyalah barisan teks yang tersusun berurutan. Alfabetis, dari atas ke bawah. Dede Tea nampak menggeser layar ke bawah.

tampilan pemutar video, yang ada hanya teks.
tampilan pemutar video, yang ada hanya teks.

“Dede lagi nyari lagu apa?” tanya saya. Sambil membathin,”gimana caranya dia bisa milih, baca aja belum bisa?“.

“Star”, jawab dede Tea, lantang.

Oya, Sebetulnya lagu yang dicarinya itu judulnya “Wish Upon A Star”, tapi dede Tea lebih sering memanggilnya sebagai “Star”, begitu saja. Karena lebih praktis mungkin.

“Yang ini nih,” katanya lagi, sambil meng-klik dua kali. Dan benar, video Hi-5 muncul, dan mulailah dede Tea menari-nari mengikuti koreografi sang presenter.

“Dede Tea tau dari mana yang tadi di teken itu lagu Star?”, tanya saya tercengang. “Kan ibu yang kasih tau”, jawabnya.”Lho, tapi dede Tea kan belon bisa baca?”, selidik saya. Habis, penasaran. Banget.

Tapi yah, gitu deh. Pada dasarnya memang nggak akan mungkin bisa menginterogasi anak seumuran itu. Pertanyaan saya nggak digubris, dede Tea sibuk, asyik jingkrak-jingkrak.

Bagaimana mungkin seorang anak yang belum bisa membaca bisa memilih playlist?

Read more