Percakapan seorang ateis dan penganut agama

Dikisahkan, seorang ateis didatangi temannya, seorang yang – katanya – masih menganut agama. Temannya ini curhat tentang permasalahannya. Karirnya yang ‘mentok-lah, lilitan hutang yang tidak sedikit-lah, ancaman perceraian-lah, daan lain sebagainya. Singkat kata, temannya ini merasa putus asa dengan hidupnya.

Setelah lama menyimak, sang ateis angkat bicara:

Ateis                         : Gwa heran. Nggak habis pikir sama lu dan ‘kaum’ lu itu?

Penganut agama  : Kenapa emang?

Ateis                         : Iya. Lu kan katanya punya agama, lu punya Tuhan. Lu punya panduan mengenai semua hal, lu punya Sesuatu yang, minimalnya, bisa dipake nge’bemper‘-in mental lu.

Pengangut agama : Trus?

Ateis                         : Lah, gwa kan kagak. Gua nggak punya agama. Gwa nggak ada Tuhan. Kalo gw mati nggak akan ada malaikat yang nyambut gua. Kasarnya, seterhormat apapun gwa, menurut agama loe itu, tempat gw cuman satu: neraka.

Penganut agama : Maksud lo?

Ateis                        : Kalau ada yang putus asa juga mustinya gua kali, bukan elu.

Penganut agama : … (diam. termenung agak lama, berusaha nyambung-nyambungin).

-Sekian-

Makin Mirip Manusia

(Percakapan nyata di salah satu weekend yang lalu)

Fahmi      : dede Tea lagi apa?
Anaknya (umur 5 taun kurang dikit) : Lagi nyuci piring.
Fahmi      : Nyuci piring apa maenin sabuun?
Anaknya : Nyuci piring.
Fahmi      : Kok sabunnya banyak banget?
Anaknya : Iya, biar cepet bersih.

(Fahmi ngeloyor pergi)

Fahmi      : dede Tea lagi apa?
Anaknya : Masih nyuci piring.
Fahmi      : Nyuci piring apa maenin sabuuun?
Anaknya : Nyuci piring, ayaaaaah.
Fahmi      : Masa? kok perasaan nggak selesai-selesai dari tadi.
Anaknya : Kan belum bersih juga piringnya.
Fahmi      : (… diam sebentar) Wah, bagus ya dede Tea
Anaknya : Apanya?
Fahmi      : Makin mirip manusia.
Anaknya : (… terdiam sebentar) … Apa sih?
Fahmi      : Iya, makin pinter ‘ngeles.
Anaknya :  (… diam, agak lama, terlihat bingung) Ayaaaaaaaaaaaaah, aku kan emang manusiaaaa!.
Fahmi      : Nah tuh. Bener kan?

(Fahmi ngeloyor. Tak lama kemudian disusul oleh anaknya. Kemungkinan karena mood ‘nyuci piring’nya udah turun. Fahmi ketawa dari kejauhan) :).

Tragedi Kunang-Kunang

f13ad82452f5fa982c3cd22d5fff7cc6
Grave of The Fireflies, film animasi besutan Studio Ghibli yang berusaha menggambarkan kekelaman perang melalui sosok kakak beradik yatim piatu – dan kunang-kunang. Poster design courtesy of Dan Sherrat.

Eh, geuning aya kica-kica“,

“Lho, kok ada kunang-kunang.” Begitu, untuk kesekian kalinya, seorang tamu mengujar heran dengan kehadiran binatang ini di teras rumah kami. Ya begitulah, alhamdulillah, sampai saat ini di lingkungan rumah kami kunang-kunang masih bisa dijumpai. Meskipun di musim kemarau cuman nampak satu dua, tapi di musim hujan bisa sampai dua atau tiga kali lipatnya. Kadang sampe nyasar masuk ke dalam rumah & terpaksa harus di”ungsi”kan keluar.

Tapi memang, semakin hari spesies ini semakin sulit dijumpai. Ketika sekitar dua tahun yang lalu saya sempat beberapa bulan menghabiskan waktu di Yogya, sama sekali tidak pernah saya menemukan kunang-kunang. Baik itu di kantor yang sebetulnya halamannya sangat luas, maupun di kost-an, yang juga banyak pohon. Aneh. Di rumah teman yang yang bertandang tersebut pun, yang sebetulnya daerah “pinggiran” Yogya, saya tidak pernah menemukannya.

Mungkin karena iklim Jogya yang relatif lebih panas daripada Bandung, mungkin juga karena tingkat kelembabannya (humidity), saya belum tahu persis. Namun sejak para tamu ini berulang kali membuat pernyataan seperti itu, sejak juga – mungkin karena nostalgia pengalaman sewaktu kecil (sewaktu kecil dulu, ketika binatang ini masih mudah ditemui, kami biasa menangkap, mengurungnya dalam toples dan bahkan menggencet & menempelkan badannya yang berpendar ke barang-barang, Masya Allah, maafkan saya), kunang-kunang berhasil menjadi topik khusus di pikiran saya. Sampai sekarang. Yang ternyata, setelah baca berbagai referensi di sana-sini, kepergian kunang-kunang ini berbicara tentang hal yang jauh lebih besar. Read more

CEO vs Anak TK, siapa yang bisa membangun menara paling tinggi?

Beberapa grup desainer, arsitek, CEO (dan staff eksekutifnya), lawyer, alumni sekolah bisnis dan anak-anak TK diminta untuk melakukan tantangan sederhana: dalam waktu 18 menit membangun menara setinggi mungkin dari 20 batang spaghetti, satu gulung benang, satu gulung selotip dan satu buah marshmallow (untuk ditempatkan di puncaknya). Siapa yang jadi pemenang dan seperti apa dinamika pencapaiannya?

Read more

Setiap harinya, seorang anak menanyakan rata-rata 390 pertanyaan

100, 390 , 40, ada beberapa versi mengenai jumlahnya namun lepas dari itu – seperti yang dirasakan oleh semua orang tua di dunia ini – anak-anak itu banyak bertanya. Benak mereka itu penuh dengan rasa ingin tahu yang jujur dan bersungguh-sungguh.

Begitu menginjak dewasa, bersekolah (beberapa kali menempuh pendidikan formal), berorganisasi, mendapatkan eksposur dari berbagai media, bekerja (dan somehow memberikan kontribusi terhadap angkatan kerja, ekonomi, politik dan lain sebagainya), pertanyaan tersebut berkurang (beberapa bahkan menghentikannya). Mungkin karena mereka sudah menemukan jawabannya, mungkin karena mereka tidak berani, mungkin karena mereka tidak percaya diri, tidak merasa lagi bertanya dan mempertanyakan sebagai sesuatu yang penting, sesuatu yang berharga.

Dalam waktu bersamaan, banyak bisnis mengeluhkan hilangnya kreatifitas dalam angkatan kerja, berbagai organisasi mengeluhkan mengenai minimnya semangat dan populasi intrepreneur, banyak pengajar mengeluhkan semakin sedikitnya motifasi untuk belajar, banyak orang tua mengeluhkan betapa anak-anaknya sulit berpikir kreatif dalam bekerja atau mengembangkan kesejahteraan.

Bisa kelihatan hubungannya?

 

Counter bully

Let’s face it. Budaya konformitas kita punya banyak sekali cara untuk mematikan semangat, hasrat dan prilaku kreatif – secara halus maupun eksplisit. Beberapa klien saya (secara halus) melabeli prilaku saya sebagai “egois” (huh!). Jauh-jauh hari sebelum itu, sewaktu kecil – SMP, SMU, kuliah –  setiap orang saya kira punya pengalaman – entah itu dari teman, atau keluarga – dimana prilaku yang berbeda kemudian dilabeli sebagai sesuatu yang “egois”, “sok tahu”, “sok mandiri”, atau lain sebagainya.

Pelabelan yang pada dasarnya adalah over react (bereaksi berlebihan), dan seringkali adalah Bully psikologis (mental) ini membuat banyak orang terkondisikan sedemikian rupa agar”play save”. Meng”aman” dan memadamkan kreatifitas mereka dan menurunkan keyakinan, dan kepercaya dirian kreatif (creative confidence), bagian paling penting dan pada dasarnya adalah pondasi pertumbuhan kreatifitas dari setiap orang.

So, jika didalam usaha anda untuk menjadi (lebih) kreatif seseorang menanggapi anda melalui bahasa tersebut, siapkan counternya, misal:

-. “Ah, dasar kamu mah egois.”
+. “Biarin gua egois, daripada elu munafik. Sok melayani orang padahal buat kepentingan lu sendiri.”

-. “Sotoy (sok tahu) lu ah.”
+. “Biarin gwa sotoy, daripada elo pelit. Punya ilmu/ informasi disimpen sendiri.” Read more

Untuk rekan-rekan super kecil kita yang sangat berguna: Terima Kasih

“Saat itu saya pikir dia gila,” kata Andrew Goldberg, direktur bedah sinus dan rhinology (bidang kedokteran yang mempelajari per-hidung-an) ketika menceritakan pengalamannya mengobati salah satu pasien pengidap infeksi telinga.

Tahun 1986 itu Andrew muda tengah residensi (praktek magang) kedokteran di UPSM (University of Pittsburgh School of Medicine), ketika seorang pasien pengidap infeksi telinga datang ke kliniknya. Pasien tersebut mengidap infeksi di salah satu telinga. Berbagai penganganan standar dilakukan, berulang kali, namun infeksinya tak kunjung sembuh. Sampai suatu ketika sang pasien datang, sumringah karena pendengarannya membaik, dan (sesudah dipersiksa) memang infeksinya pun sudah hilang.

“Mau tahu gimana gimana cara saya menyembuhkannya?”, tanya sang pasien kepada Andrew yang terheran-heran.  Read more

Struktur dan fraktal pikiran

Struktur visual itu, kalau cuman bisa eksis sebatas yang sudah saya tulis disini sepertinya gampang banget ya. Kita mungkin nggak akan pernah lupa, selalu akurat dan nggak akan pernah eror kalau ngerjain apa-apa. Nyatanya, ini gampang-gampang susah karena seperti bahasa yang lain (verbal, oral, teks) ini juga kita cerna berlapis-lapis.

Kita men”cerna” sesuatu sebagai satu susunan tertentu:

lol-1

yang dalam waktu yang (hampir) bersamaan, tanpa kita sadari benar, kita juga me”mecah”kannya kedalam berbagai susunan yang lebih kecil: Read more

Struktur

Kata-kata dalam susunan tertentu akan memicu pemaknaan berbeda bila tersusun berbeda. Kalimat:

Senang bertemu dengan anda

misalnya, yang tersusun dalam urutan kata-kata dan huruf tertentu, memicu (pe)makna(an) khusus, yang berbeda dengan:

Anda bertemu dengan senang

atau

gnanes nagned umetreb adnA.

Hal yang kurang lebih sama berlaku terhadap kombinasi antara gambar dan kata- kata atau yang biasa kita sebut sebagai “grafis”.

Susunan grafis seperti ini: Read more

Peta kecerdasan majemuk

Kali ini saya bakal nyatetin daftar kecerdasan/ kecakapan majemuk selain kognisi visual. Mudah-mudahan bisa membantu para orang tua pembaca blog ini dalam mengenali kecakapan khas yang berkembang di para putra/putrinya, atau mungkin juga dalam “membaca” dinamika kecerdasan yang (sejak jauh-jauh hari sebetulnya sudah dimiliki di) diri sendiri atau orang-orang sekitarnya:

  1. Musik-ritme-dan harmoni: kecerdasan dalam memproses suara, nada, ritme dan lagu.
  2. Visual-Spatial: kecerdasan dalam memproses elemen visual, ruang dan ruangan.
  3. Verbal-Linguistik: kecerdasan dalam bahasa verbal, meliputi membaca, menuliskan, melafalkan, memproses bahasa majemuk, aksen dan lain sebagainya
  4. Logika-Matematika: kecerdasan dalam menghubungkan, mengaitkan satu hal kepada hal lainnya, dan melakukan “pengukuran” (seriously, saya kenal dengan seorang anak yang kelihatannya untuk beliau menggambar itu seperti membuat matriks geometrik, dimana bagian demi bagiannya seolah di”rancang” sedemikian rupa supaya – bukan hanya cantik dan atraktif – namun juga bisa terukur dan terkontrol oleh sang penggambar)
  5. Bodily-Kinestetik: kecerdasan motorik. Meliputi motorik kasar, halus, termasuk juga bahasa tubuh.
  6. Interpersonal: kecerdasan dalam berhubungan dengan orang lain
  7. Intrapersonal: kecerdasan dalam berhubungan dengan diri sendiri, melalukan (r)evaluasi, pemahaman diri, etc
  8. Naturalistik: kecerdasan dalam memproses lingkungan alam di sekitarnya
  9. Eksistensial: kecerdasan dalam memproses spiritualitas.

Semua anak (Subhanallah!) pada dasarnya telah dibekali bukan hanya satu, namun semua kemampuan universal di atas sejak bayi. Namun memang porsi dan komposisinya seringkali berbeda sehingga satu anak mungkin lebih dominan di beberapa elemen, sementara anak lain di beberapa elemen yang berbeda.

Yang tidak kalah menakjubkannya adalah, seperti yang dialami lebih intens oleh Temple Grandin (dengan lebih berkembangnya kognisi visual) dan banyak pengidap autis lainnya, keterbatasan satu atau beberapa kecakapan tertentu seringkali memicu – entah itu disadari atau tidak – meningkatnya perkembangan kecakapan yang lain.

Informasi lebih jauh bisa disimak dari lama wikipedia, dan dari website Howard Gardner ini.

Selamat “membaca”.