Saya tidak terlalu sering membicarakan desain saya secara khusus ke publik luas. Entahlah, meskipun saya bisa memahami berbagai pembenarannya (sebagai bentuk ‘pertanggung jawaban’ kekaryaan, promosi atau ‘personal branding’ misalnya) sehingga jadi kepikiran buat bikin pameran khusus atau apaa gitu, hal tersebut selalu sulit tereksekusi. Mungkin juga karena tumpukan project dan bekerja sendirian selalu sukses bikin waktu saya habis. Apapun itu. Mendapatkan kesempatan melakukannya melalui acara khusus Ngobrol Diskusi Desain Visual Buku di Akademi Seni Rupa dan Desain Modern School of Design (MSD) Yogyakarta ini adalah sebuah ‘kemewahan’ buat saya. Saya bisa menceritakan beberapa hal yang tidak diketahui (dan diduga) oleh banyak orang mengenai hal tersebut, secara spesifik dalam sampel kasus desain buku Dee Lestari Supernova .

So, bolehlah sedikit saja lagi, saya panjangkan kemewahan itu melalui catatan ini:

…….

On 14 tahun merancang kover Supernova:

Seberapa sering ketemu langsung/ komunikasi dengan Dee (ketika merancang Supernova)?

Dulu sewaktu Dee di Bandung, sering ketemu langsung, setidaknya di awal proses. Tapi begitu Dee pindah ke Jakarta (Tangerang tepatnya), tentu saja ini jadi nggak mungkin. Walhasil kami (saya, Dee, dan kemudian Bentang) memanfaatkan apapun media yang mungkin. Dari mulai email, sms, Whatsapps, bilik chatting, sampai private blog. Kami berbicara langsung (via telepon) hanya untuk situasi yang dianggap darurat.

…….

On 14 tahun mengerjakan Supernova: First project.

Project pertama saya dengan Dee bukanlah Supernova, melainkan sample kit album Out of Shell. Limited edition, dicetak terbatas, dengan peruntukkan para calon rekanan. Dirancang menyerupai buku yang berisi berbagai informasi mengenai Dee dan album tersebut, plus lapisan/bagian khusus yang harus dirobek terlebih dahulu (out-of-shell) untuk mengeluarkan box plastik berisi keping CD sampel.

…….

On ‘Menaburkan lembaran ratusan ribu hasil honor desain Supernova Akar’.

It did happened. Dee, Bang Erwin, I am so sorry. Kelakuan yang mungkin tidak diduga dari seorang Fahmi itu benar-benar terjadi. Pagi itu, setelah larut malam presentasi final, dan subuhnya saya mengantarkan abang Erwinton ke stasiun Bandung dan beliau memberikan segepok uang (dan kami – team desain rembugan mengenai pembagiannya), sesampainya di rumah saya taburkan uang tersebut di atas ranjang.

Itu momen pertama, dan kemungkinan besar satu-satunya di kehidupan kami, dimana istri saya tiduran beralaskan banyak lembaran seratus ribuan. Alah!.

…….

On ‘Apakah desainer kover buku (dan desainer perbukuan secara umum) harus gemar membaca?’

‘Celakanya’ Iya :-).

Bila saat ini anda merasa belum gemar membaca namun kepengen dan merasa penting untuk membaca, cobalah jadi desainer kover atau layout. It’s a good start.

Semua halaman draft Supernova Petir tuntas saya baca 4 jam saja. KPBJ butuh berhari-hari, dan terus diulang, sampai sekarang. Sementara IEP (seperti Perahu Kertas) belum tuntas saya baca ketika mulai mendesain. Intinya, setiap desainer harus mau memahami terlebih dahulu sebuah persoalan sebelum memecahkannya. Dan dalam konteks keunikan sebuah buku, bagaimana mungkin kita melakukannya tanpa membaca sedikitpun kan?

…….

On (personal) style: Seberapa penting dalam proses merancang

Saya selalu ingin meyakini bahwa apa yang saya tekuni ini adalah desain, dan dalam desain, personal style bukanlah urusan utama. Ini bukanlah hal khusus yang harus dikedepankan ketimbang persoalan desain, dan kedirian sang klien itu sendiri.

Kurang lebih sama seperti penulis. Kehadiran penulis yang terlalu kentara (terlalu sengaja, dikhususkan) justru akan melemahkan cerita dan berbagai karakter ciptaannya. Mereka jadi kaku, tidak menentu, ‘mati’, dan terasa seperti tempelan atau hiasan.

Jadi, dalam banyak situasi perancangan, saya selalu lebih kepengen berfokus pada persoalan perancangan: konten, klien dan penggunanya, bukan pada saya. Demikian juga ketika merancang Supernova, saya berusaha mengalir bersamanya.

…….

On “Tahapan proses desain kover dan membuat sketsa”.

Buatlah sebanyak mungkin dalam waktu yang tersedia, jangan terlalu cepat puas, dan jangan percaya ide pertama (ide yang keluar dari sesi sketsa pertama). Karena ide di sesi ini biasanya kurang otentik, paling mudah ditemukan oleh orang lain. Juga karena sesudah sketsa sesi pertama (dan hanya setelah ini) ada sesi yang sangat penting (bagi proses desain dan kreatifitas secara umum): Inkubasi. Fase dimana pikiran dan berbagai konsep diendapkan dan di’gasak’ oleh lebih banyak pikiran bawah sadar sehingga memungkinkannya lebih matang, utuh dan tajam. Tentu saja bila kita konsisten menggarapnya.

…….

Itu saja dulu. Terima kasih atas antusiasme dan pertanyaannya. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga dari kampus ini bisa muncul lebih banyak lagi perancang jempolan. Viva MSD!

 

Catatan khusus:

  • Untuk point “Menaburkan …”: waktu itu saya (kami, tim desain) tidak hanya merancang kover, namun juga material promo. Itu mencakup poster cetak berbagai ukuran, flyers, dan berbagai assets/elemen pendukungnya (fotografi, ilustrasi, etc)
  • Untuk point “Membaca …”:
    Anda harus menyukai, dan dengan sendirinya ‘terpaksa’ membaca buku bila ingin menjadi desainer kover buku atau desainer buku karena di setiap penugasan, anda akan mendapatkan setidaknya cuplikan 1 bab buku tersebut.
  • Untuk point “(Personal) Style …”:
    Tentu saja ini tidak gampang. Terkadang pemahaman kita mengenai persoalan personal style ini terlalu sempit dan taken for granted. Bahwa ini terjadi begitu saja, bahwa apa yang dimiliki oleh orang lain akan selalu cocok dengan yang lainnya, bahwa ini adalah hal yang selalu (atau sepenuhnya) bersifat internal (dari dalam diri – tanpa campur tangan kekuatan dari luar), mulus (tanpa konflik), dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Terkadang pula kita membiarkan diri kita lupa dan kurang fokus terhadap keragaman, dan masih memandang apa yang orang lain pikirkan sebagai keinginannya sebagai individu, bukan tuntutan sebuah persoalan (meskipun memang, ada juga yang seperti itu).
  • Apapun itu, intinya adalah, tidak usah khawatir dengan personal style. Setiap manusia telah tumbuh melalui latar belakang yang spesifik dan unik. Ini adalah proses yang kompleks, dinamis, dan tidak sebentar, yang pengekspresiannya menjadi sedemikian rupa tidak terelakkan. Bila harus ada hal untuk dikhawatirkan, khawatirlah bila pencarian dan pengembangan personal style ini sedemikan rupa membebani sehingga sulit berbahagia. Halah, celaka sekali jadi desainer seperti itu.
Advertisements

3 thoughts on “Notes on Desain Buku, Kover Supernova dan Modern School of Design Yogyakarta

  1. Mas Fahmi,

    I do wish I were one of the students there. 😦
    Okay. I subscribe your web.

    Regards,

    Yenni (semoga belum lupa. 🙂 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s