vintage_barn_owl_illustration_coaster-re9ac8a643a274f9bbe65b02551f2c656_x7jy0_8byvr_324Sore beres acara, di Jakarta hujan. Sudah sejak siang sebetulnya, tapi nggak berhenti-berhenti. Mobil travel baru datang pukul setengah delapan padahal mustinya pukul tujuh kurang, berikut selama satu setengah jam kemudian baru bisa masuk tol, dan pukul setengah dua belas malam saya tiba di Bandung.

Saya bukan orang yang trampil dalam multi tasking. Jadi selama meeting yang hampir seharian tadi itu (duh!), sms yang seharusnya saya kirim mengenai kunci rumah supaya nggak dititip ke tetangga (karena saya mungkin pulang malam & anak istri pergi liburan), baru terkirim pukul 3 sore – which is pretty useless. Kunci sudah terlanjur dititip ke tetangga.

So, pukul setengah dua belas malam itu, di jalan Sukarno Hatta yang panjang dan lengang, I was stranded. Berdiri lama nggak bisa pulang.Angkot nggak ada yang nongol. Nggak ada ojek. Mana becek :), akhirnya saya memutuskan untuk menyetop taksi menuju rumah orang tua.

Ibu tercinta kelihatannya baru saja bangun dan seperti biasa, menyambut kedatangan anaknya dengan satu kegiatan: diskusi.

Iya bener. Dulunya ini hanya ngobrol biasa. Kadang, kalau ibu lagi banyak pikiran, diisi dengan curhat (‘nyurhatin suaminya tuh). Tapi sehubungan dengan perkembangan pikiran anaknya – dan juga mungkin karena bosen dipake forum curhat melulu – semakin hari percakapannya semakin mirip diskusi. Ala warung kopi, gitu. Dengan topik yang seringkali meloncat ke sana ke mari.

It used to be fun, tapi coba bayangin, diskusi jam 12 malam?

Tapi begitulah. Ibu adalah orang yang pengaruhnya paling kentara dalam membentuk saya. Melalui beliau inilah berbagai “virus” mengenai entrepreneurship sukses bercokol di dalam pikiran saya, dan membentuk saya  sehingga menjadi seperti sekarang*.

Seperti juga dalam diskusi tengah malam itu. Obrolan ngalor-ngidul mengenai banyak hal kemudian memuncak pada “bonus demografi Indonesia di tahun 2030“. Ibu percaya bahwa hal tersebut hanya bisa tersukseskan melalui entrepreneurship. Logikanya sederhana. Bila saja ada lebih banyak pengusaha yang membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, maka ledakan usia produktif di masa depan itu akan terserap dan kita “aman”.

Beliau kelihatan optimis. Beliau mengetahui bahwa saat ini ada lebih banyak program (entah itu dari pemerintah atau swasta) mengenai pengembangan entrepreneur. Beliau menemukan sendiri, semakin hari ada semakin banyak karyawan yang tidak puas dengan pekerjaannya dan memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Saya tidak sependapat, menurut saya sih tidak semudah itu.

Saya seorang entrepreneur, saya mempercayai dan saya tengah menekuninya sampai sekarang. Tapi begitu saja menyangkutkan kuantitas dengan kualitas, bahwa dengan membuat lebih banyak inrepreneur berarti akan semakin baik, kok saya nggak yakin. Sepertinya ini naif, tidak lengkap dan bisa sangat menjerumuskan.

Sepengetahuan saya, berbagai program tersebut masih terlalu sedikit untuk bisa dipandang sebagai eskalator populasi entrepreneur. Dan juga, tidak lantas begitu ada juga programnya juga maka lantas akan selalu jadi, sesuai dengan yang ditargetkan. Namun lepas dari itu, dalam kaca mata saya semakin banyak usaha (dan pengusaha) akan ada semakin banyak masalah. Yang bisa tertangani, atau bisa juga tidak.

Pertumbuhan padi di Pekalongan menurun, sungai-sungai disana menjadi beracun, lingkungannya menjadi semakin membahayakan ketika justru ada semakin banyak usaha batik**. Di berbagai sudut kota-kota besar di Indonesia yang katanya maju, anda bisa cek sendiri, semakin banyak pabrik berdiri, semakin banyak usaha berkembang, biasanya semakin rusak lingkungannya.

Nggak usah jauh-jauh deh. Di kampung saya itu, selokan-selokan semakin tidak teratur, semakin banyak mampet, jalan-jalan semakin sempit, fasilitas umum semakin rusak, dan berbagai bencana; entah itu banjir, kebakaran lahan, pencemaran sungai, macet, dan lain sebagainya, justru muncul di saat semakin banyak penduduk dan pengusaha. Dari mulai usaha sablon, developer perumahan tingkat gurem yang – melalui angin sejuk bisnis properti – tereskalasi populasinya, sampai ke ruko-ruko.

Bukan berarti developer, usaha sablon, dan ruko-ruko sekarang ini pada bermasalah. Tentu saja tidak semua seperti itu, ada juga yang bertanggung jawab dan berdedikasi. Bukan berarti juga sebelumnya kampung saya ini innocent – tidak bermasalah. Bisa dikatakan bahwa, bila sebelumnya kampung saya inipun sudah punya cukup banyak masalah (keamanan, lingkungan, dan lain sebagainya), ledakan populasi pengusaha menjadikannya berlipat ganda. Seperti menumpukkan lapisan masalah baru diantara tumpukan masalah sebelumnya yang juga nggak kelar-kelar.

Ini juga pastinya berhubungan dengan pemerintah, pemerintahan, politik, budaya dan berbagai hal yang bersifat lokal, regional maupun nasional. Namun pastinya, bila itu saja – menambah populasi entrepreneur – yang kita lakukan, ini bakal kayak dapet satu hilang satu.

Kita mungkin dapat ledakan ekonomi, namun di sisi lain mendapat kemerosotan kualitas lingkungan. Pretty much like negara Cina saat ini (simak dari sini, sini dan sini). Mungkin benar akan ada lebih banyak pengangguran terpekerjakan, mungkin benar akan ada lebih banyak kemajuan ekonomi, tapi untuk apa? untuk kemunduran lingkungan, sosial, kesehatan dan spiritualitas yang kemudian mengantarkan kita pada berbagai krisis?

Seharusnya, semakin banyak entrepreneur berarti semakin terpelihara lagi lingkungan. Seharusnya semakin banyak pengusaha maka semakin jernih dan subur lagi tanah, seharusnya semakin banyak lapangan pekerjaan maka semakin jarang terjadi karena saluran yang mampet atau tidak tersedia dengan benar. Dan satu-satunya jalan untuk itu adalah kita tidak dapat menyebarkan virus entrepreneur per se, hanya demi kemajuan ekonomi dan entrepreneurship itu saja. Kita harus, bergerak melalui konsep entrepreneur yang utuh. Itulah yang harusnya disebarkan, diajarkan dan dipraktekkan sejak dini.

Utopia? Mungkin. Tapi saya tahu kalau di tahun 2030 tidak terjadi seperti itu, we will screw.

Anyway, begitulah kurang lebih ‘sesi’ diskusi saya dan ibu larut malam itu. Mudah-mudahan beliau berumur panjang sehingga bisa menyemangati pikiran entrepreneurial saya. Mudah-mudahan saya bisa terus ada di samping beliau, menemani perasaannya, menyeimbangkan pikiran-pikiran kritisnya, merawat banyak hal yang kurang lebih mungkin mirip dengan saya.

Dan saat itu sudah begitu malam. Pagi-pagi sekali saya harus pulang (dan ‘ngambil kunci dari rumah tetangga), sehingga setelah shalat, saya putuskan untuk beristirahat. Tidur beberapa jam.

Zzzzzzzz….

*) Salah satu ‘virus’ yang saya rasakan paling berpengaruh dalam membentuk saya adalah mengenai penyebaran islam & entrepreneurship. Menurut ibu, Islam – pandangan, filosofi, way of life, spiritualitas; agama yang menjadi panduan banyak orang di dunia, dan termasuk saya sekarang ini tidak mungkin tersebar tanpa entrepreneurship, sebagai sebuah spirit, dan etos kerja.

Sulaiman AS. adalah seorang raja, Musa AS. adalah abdi negara mesir – sebelum kemudian menjadi penggembala dan menikahi anak majikannya, Muhammad SAW adalah pedagang, even Adam AS adalah ahli tani. Di sepanjang sejarah kehidupan para nabi, kita bisa melihat pertumbuhan dan peralihan profesi dari mulai abdi negara, penggembala ternak, ahli pahat, petani dan lain sebagainya. Namun tidak pernah ada seorangpun nabi, yang dalam kenabiannya adalah budak.

Bahkan melalui pelajaran sejarah penyebaran Islam yang kita pelajari sekilas sewaktu SMA kita bisa ingat betul bagaimana Islam bisa menyebar ke Indonesia melalui ‘para pedagang dari Gujarat’. Which is pretty much make sense. Hanya melalui penempaan keahlian yang serius-lah kita akan sampai pada berbagai pemikiran yang mendalam mengenai berbagai hal dan meraih kepercayaan banyak orang. Hanya melalui independensi, keberanian, dan kepercaya dirian-lah seseorang bisa melakukan banyak hal, termasuk membagikan keislamannya, tanpa harus tergantung dengan ukuran-ukuran di luar dirinya.

Dengan kata lain, tidaklah mungkin Islam tersebar sehingga menjadi seperti sekarang ini bila para calon penyebarnya dikit-dikit minta ijin, dikit-dikit nggak pede, dikit-dikit takut dipecat, dikit-dikit menilai diri berdasarkan ukuran orang lain, dikit-dikit mengurangi “iman” entrepreneurship-nya. They are all the bravest, most creative and innovative man of their ages. They’re the cutting edge of humanity.

**) Sedemikian rusaknya sehingga “semakin pekat limbah batik yang mengalir maka itu pertanda batik sedang berjaya. Sebaliknya, bila aliran sungai tanpa limbah berarti produksi batik sedang tak bergairah

Advertisements