f13ad82452f5fa982c3cd22d5fff7cc6
Grave of The Fireflies, film animasi besutan Studio Ghibli yang berusaha menggambarkan kekelaman perang melalui sosok kakak beradik yatim piatu – dan kunang-kunang. Poster design courtesy of Dan Sherrat.

Eh, geuning aya kica-kica“,

“Lho, kok ada kunang-kunang.” Begitu, untuk kesekian kalinya, seorang tamu mengujar heran dengan kehadiran binatang ini di teras rumah kami. Ya begitulah, alhamdulillah, sampai saat ini di lingkungan rumah kami kunang-kunang masih bisa dijumpai. Meskipun di musim kemarau cuman nampak satu dua, tapi di musim hujan bisa sampai dua atau tiga kali lipatnya. Kadang sampe nyasar masuk ke dalam rumah & terpaksa harus di”ungsi”kan keluar.

Tapi memang, semakin hari spesies ini semakin sulit dijumpai. Ketika sekitar dua tahun yang lalu saya sempat beberapa bulan menghabiskan waktu di Yogya, sama sekali tidak pernah saya menemukan kunang-kunang. Baik itu di kantor yang sebetulnya halamannya sangat luas, maupun di kost-an, yang juga banyak pohon. Aneh. Di rumah teman yang yang bertandang tersebut pun, yang sebetulnya daerah “pinggiran” Yogya, saya tidak pernah menemukannya.

Mungkin karena iklim Jogya yang relatif lebih panas daripada Bandung, mungkin juga karena tingkat kelembabannya (humidity), saya belum tahu persis. Namun sejak para tamu ini berulang kali membuat pernyataan seperti itu, sejak juga – mungkin karena nostalgia pengalaman sewaktu kecil (sewaktu kecil dulu, ketika binatang ini masih mudah ditemui, kami biasa menangkap, mengurungnya dalam toples dan bahkan menggencet & menempelkan badannya yang berpendar ke barang-barang, Masya Allah, maafkan saya), kunang-kunang berhasil menjadi topik khusus di pikiran saya. Sampai sekarang. Yang ternyata, setelah baca berbagai referensi di sana-sini, kepergian kunang-kunang ini berbicara tentang hal yang jauh lebih besar.

Kunang-kunang adalah spesies berikutnya (lagi) yang hampir punah di area perkotaan yang pada dasarnya adalah daerah dingin seperti Bandung. Ada banyak hal penyebabnya. Salah satunya adalah karena kunang-kunang ini adalah spesies sensitif cahaya. Mereka tidur di siang hari ketika cahaya ada begitu banyak dan ‘keluyuran’ di malam hari. Lebih dari ‘keluyuran’ sebetulnya. Di malam hari ini mereka beraktifitas dan bercengkrama, ‘pedekate. Cahaya – atau tepatnya pendar cahaya adalah ‘bahasa’ khusus yang memungkinkan mereka mengenali berbagai hal, termasuk calon pasangannya. Jadi bisa dibayangkan, ketika dengan adanya penemuan lampu, malam hari yang sejatinya berisi pendar-pendar syahdu, jadi riuh dengan cahaya. Bukan hanya mereka ini bingung karena malam jadi laksana siang, aktifitas percumbuanpun jadi terganggu. Bila saya adalah kunang-kunang, berbagai kilauan cahaya super terang tersebut barangkali adalah monster. Lebih terasa menakutkan ketimbang menggoda, lebih mendatangkan insecurity dan stress ketimbang sebaliknya.

Bukan hanya itu. Berbagai penurunan kualitas lingkungan juga mempengaruhi. Tanah yang berkurang unsur hara dan penuh dengan sampah dan pestisida, udara yang semakin panas, dan berbagai hal lainnya mengurangi pasokan makanan, dan tentunya membuat kehidupan mereka semakin tidak nyaman. Memaksa mereka untuk bermigrasi ke lokasi-lokasi yang lebih temaram dan lembab, yang tentunya semakin hari semakin sulit dijumpai, dan punah secara sistemik.

Saya sebut sebagai sistemik karena tentu saja, dengan berkurangnya kunang-kunang maka nasib para predator kunang-kunang, yang sedianya sedemikian rupa adalah mekanisme penyeimbangan kelestarian alam juga berada di ujung tanduk. Demikian pula dengan siklus dimana kunang-kunang adalah predatornya. Saya percaya, meskipun saya belum benar-benar memahaminya, ada banyak unsur hara, seperti juga berbagai hewan renik yang tidak terproses sebagai akibat menurunnya populasi kunang-kunang ini.

Sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu. Ketika bagian belakang rumah masih rawa-rawa dan rumah kami terlihat dari jalan utama, saya terbiasa melihat beberapa White breasted waterhen alias burung Kareo Padi dari spesies A. phoenicurus keluar masuk rawa tersebut. Sebagian tubuhnya putih, berkaki sedikit (jangkung) panjang namun berukuran lebih kecil daripada bangau.

600px-White-breasted_Waterhen_(Amaurornis_phoenicurus)Status_iucn3.1_LC.svgBurung ini tentu bukanlah pemangsa kunang-kunang. Namun kini, setelah satu persatu rawa tersebut digantikan oleh rumah atau lahan yang tidak terurus, sama seperti kunang-kunang, burung tersebut pun semakin jarang terlihat. Terakhir, beberapa bulan yang lalu kalau tidak salah, satu atau dua sempat mampir ke halaman rumah. Entah dari mana. Sepintas seperti yang limpeur (linglung), hinggap tidak pernah lama. Ya gimana mau lama, lha wong halaman rumah saya bukanlah rawa yang mereka butuhkan.

Di masa-masa ini pula, di lingkungan rumah masih banyak ditemui kupu-kupu Si Rama-Rama, a.k.a Ngengat Atlas alias Attacus Atlas. Sekitar satu jengkal tangan orang dewasa bila sayapnya terentang, dengan struktur tubuh dan pola warna coklat yang stunning, menakjubkan. Attacus_atlas_ill

Mereka ini, entah itu kunang-kunang, burung rawa atau kupu-kupu Si Rama-Rama, adalah sebagian kecil dari banyaaak sekali makhluk hidup yang kita ‘tumbal’kan. ECOS, Environmental Conservation Online System bahkan mencatat secara lengkap, ada 1300-an lebih spesies fauna yang punah dan terancam punah karena ulah manusia, disini.

Saya menduga ada lebih banyak lagi hewan renik yang belum terdata. Namun yang jelas, kini anak tumbuh tanpa mengetahui adanya Si Rama-Rama. Meskipun mungkin ingatannya akan berkembang seiring dewasa, dan meskipun saat ini dia masih bisa menikmati spesies-spesies yang “tersisa” (rata-rata adalah kupu-kupu berukuran kecil dan sedang, beberapa sangat cantik dengan warna hitam kuning, mungkin penjelmaan ulat-ulat di pohon kami yang, bila tidak merugikan saya selalu larang untuk membunuhnya), saat ini dia tumbuh dengan pengalaman – dan kenangan mengenai alam – yang jauh lebih terbatas dibanding ayah dan ibunya, yang sebetulnya juga sudah jauh lebih miskin ketimbang pengalaman kakek dan neneknya.

Dan ini adalah satu hal yang mengkhawatirkan. Setidaknya bagi saya, karena saya tahu persis, apa yang di”tebus” oleh kepergian para fauna ini, mungkin bukanlah sebuah dunia yang lebih baik.

Di sekeliling saya sekarang ini ada kini ada banyak rumah. Dikembangkan (baca:diproduksi dan dijual) oleh banyak developer kelas menengah sampai amatiran. Jauh lebih fancy ketimbang rumah kami yang alakadarnya. Namun, di sekeliling hunian-hunian ini (termasuk di sekitar hunian kami juga, pastinya) menggantikan rawa-rawa berisi kunang-kunang, burung rawa dan Si Rama-Rama yang cantik, adalah saluran air yang mampet berisi jentik-jentik nyamuk dan (sebagian) sampah plastik. Sebagian besar warga sudah lama tidak memfungsikan tanah sebagai resapan. Air, entah dalam berbagai bentuk hujan, minuman, atau material rumah tangga, sebagian besar diperlakukan dalam perspektif gunakan dan buang. Hunian, ataupun rumah usaha terlihat berlomba-lomba membuang air, yang pastinya tercampur berbagai bahan kimia, untuk bertumpuk, menggenang begitu saja diantara got-got yang mampet. Persis seperti kemacetan yang setiap hari kita biarkan.

Di sepanjang perjalanan saya mengajar kini ada semakin banyak gedung perkantoran dan bangunan usaha yang megah, tinggi dan ‘cantik’. Tapi jangan salah, kalau kita simak di pinggiran gedung dan mengobrol dengan penduduk sekitarnya, kita akan menemukan banyak sekali cerita kelam tentang bagaimana salah satu sumber resapan air yang luas menghilang dan digantikan oleh banjir, tentang bagaimana saluran air lebih sering mampet dan dibiarkan begitu saja selama bertahun-tahun, atau bagaimana setiap harinya, sinar matahari yang sebelumnya membantu menyehatkan penduduk sekitar terhalangi karena adanya bangunan tersebut.

Begitu pula kalau kita membayangkan kondisi di dalam bangunan. Kemewahan seringkali adalah ilusi yang menyesatkan. Banyak gedung melalui pandangan dan prilaku perancangan yang buruk – bukan hanya rawan bencana (meletakkan sumber keramaian di basement dan/ atau ruangan yang hanya dibekali oleh satu pintu yang kecil, dan lain sebagainya), namun juga menghambur-hamburkan ‘tabungan’ sumber daya alam karena banyak ruangan harus menyalakan air conditioner saking asosial (baca: tertutup atau pengapnya), dan semua ruangan harus diterangi oleh lampu bahkan di siang bolong ketika sinar matahari ada berlimpah.

Diantara itu. Di sepanjang perjalanan offline saya yang – alhamdulillah sudah semakin berkurang ini – setiap harinya, secara berulang, orang-orang menumpukkan kendaraan pribadi – banyak dari ini adalah mobil-mobil yang kosong, hanya berisi satu penumpang saja – pada rutinitas yang luar biasa jumud, terbelakang dan boros yang kita sebut sebagai kemacetan.

Dan diantara semua itu, saya melihat ada semakin banyak orang yang tertimpa stroke di masa muda, pencuri dan perampok dengan tenang melaksanakan kejahatannya di rumah-rumah yang di”harudum” (ditutupi, entah oleh betonan, pagar tinggi, atau plastik). Anak-anak – yang seharusnya berada di luar ruangan ketika mentari pagi tengah sehat-sehatnya bersinar malah di’sekap’ di dalam satu konsep pendidikan yang kita sebut sebagai “kelas” – tidak mengenal atau bereaksi berlebihan dengan berbagai bakteri dan binatang yang hidup begitu dekat, bahkan di dalam tubuh mereka sendiri, sehingga memunculkan berbagai sindrom aneh. Alergi ini lah, alergi itu lah, sulit berbicara-lah, asosial-lah, dan lain sebagainya. Diantara kepergian secara sistemik kunang-kunang, burung rawa, dan Si Rama-Rama, saya melihat orang-orang yang mungkin pintar, mungkin banyak uang, mungkin sumringah di dalam tampilan, namun berlebihan dalam banyak hal, gampangan, suka seenaknya, waswas, selalu merasa kekurangan. Insecure. Kurang bahagia.

Tidak ada yang bagus dan sehat dari kepergian para fauna. Saya bisa katakan bahkan bahwa semakin punahnya mereka adalah pertanda semakin tidak sehatnya dan membahayakannya lingkungan tersebut, bukan sebaliknya.

Saya adalah satu dari sekian banyak warga yang terjebak di kota Bandung yang sampai sekarang belum juga memiliki lingkungan yang sehat. Saya mengidam-idamkan hijrah ke daerah lain yang lebih tertata, tapi apa mau dikata, nggak pernah kesampean (duh!, jadi curhat :)).

Jangan salah, Bandung adalah kota kelahiran saya. Ini adalah tempat yang ademnya, karakteristik ramah dari orang-orangnya, dan mojangnya yang jelita tentunya, sangat saya sukai. Ini adalah sesuatu yang melaluinya saya tumbuh hingga jadi seperti sekarang ini. Namun, ya itu tadi. Selain karena sekarang saya sudah menikah 🙂 (hahaha), semakin hari, hal-hal positif rasanya semakin sulit ditemui. Percakapan mengenai lingkungan lebih sering terarah sebagai keluhan dan debat kusir ketimbang aksi nyata, beberapa orang bahkan memandang saya dengan pandangan kosong – atau bahkan menjauh – ketika saya mulai berbicara mengenai konservasi lingkungan. Mungkin karena dalam pikirannya, konservasi adalah satu topik yang berbahaya. Mereka lupa bahwa hal yang lebih berbahaya adalah justru sebaliknya.

Namun begitu, saya tidak bisa menunggu. Saya harus bertahan tetap sehat dan waras di ‘penjara’ ini. Sudah beberapa tahun ini saya ‘puasa’ kendaraan bermotor, membuat lubang resapan biopori, berusaha untuk konsisten dengan perspektif dan praktek Good Design, lebih banyak menempuh perjalanan dengan sepeda (sebentar lagi Insya Allah saya mulai bersepeda ke tempat mengajar), dan aktif di komunitas warga sekitar. Saya juga mengetahui beberapa orang mungkin memikirkan dan tengah berusaha. Kang Emil, pak walikota sekarang tengah kotor-kotoran memperjuangkan Bandung supaya bener, beberapa komunitas dan LSM tengah bergiat, dan nampaknya kini ada lebih banyak kaum muda yang tergerak dengan topik lingkungan. Tapi perjalanannya masihlah jauh. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, tenaga yang tidak sedikit, dan istiqomah, hal yang begitu sulit kita tegakkan di masa sekarang, untuk dapat mengembalikan lingkungan alam ini ke bentuknya yang lebih sehat.

Namun, lepas dari hal tersebut, tentu saja, apakah seseorang menjadi seperti saya (atau jauh lebih dahsyat), atau bahkan menjadi oportunis lingkungan dan melanjutkan siklus penumbalan bunuh diri ini, begitu saja tanpa motivasi untuk mengkonservasi, itu adalah pilihan.

Apakah kita akan mewariskan mereka kehidupan dengan hunian yang semakin berwarna, menarik, dan tertutup namun semakin merasa tidak aman dan nyaman penghuninya? Apakah kita benar-benar menginginkan rumah yang semakin berisi banyak mobil, namun sekaligus orang yang sedemikian rupa terkondisikan untuk sakit dan kurang bahagia? Apakah kita benar-benar membutuhkan berbagai bangunan yang tidak peduli seberapa kokoh namun tak ada satupun yang sanggup menahan puting beliung, banjir dan gempa?

Bila benar, apa yang kita lakukan sekarang ini adalah untuk anak dan cucu, saya kira yang perlu kita lakukan adalah kebalikan dari apa yang tengah terjadi sekarang. Kejumudan kita saat ini, persisnya adalah karena kita – entah itu begitu lihai atau begitu bodoh – berhasil mengembangkan pembenaran bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk anak dan cucu,  padahal yang kita lakukan sesungguhnya tak lain dan tak bukan adalah, mengorbankan sebuah dunia yang lebih sehat di masa depan, demi kehidupan kita sekarang.

Advertisements