Makin Mirip Manusia

(Percakapan nyata di salah satu weekend yang lalu)

Fahmi      : dede Tea lagi apa?
Anaknya (umur 5 taun kurang dikit) : Lagi nyuci piring.
Fahmi      : Nyuci piring apa maenin sabuun?
Anaknya : Nyuci piring.
Fahmi      : Kok sabunnya banyak banget?
Anaknya : Iya, biar cepet bersih.

(Fahmi ngeloyor pergi)

Fahmi      : dede Tea lagi apa?
Anaknya : Masih nyuci piring.
Fahmi      : Nyuci piring apa maenin sabuuun?
Anaknya : Nyuci piring, ayaaaaah.
Fahmi      : Masa? kok perasaan nggak selesai-selesai dari tadi.
Anaknya : Kan belum bersih juga piringnya.
Fahmi      : (… diam sebentar) Wah, bagus ya dede Tea
Anaknya : Apanya?
Fahmi      : Makin mirip manusia.
Anaknya : (… terdiam sebentar) … Apa sih?
Fahmi      : Iya, makin pinter ‘ngeles.
Anaknya :  (… diam, agak lama, terlihat bingung) Ayaaaaaaaaaaaaah, aku kan emang manusiaaaa!.
Fahmi      : Nah tuh. Bener kan?

(Fahmi ngeloyor. Tak lama kemudian disusul oleh anaknya. Kemungkinan karena mood ‘nyuci piring’nya udah turun. Fahmi ketawa dari kejauhan) :).

Advertisements

Tragedi Kunang-Kunang

f13ad82452f5fa982c3cd22d5fff7cc6
Grave of The Fireflies, film animasi besutan Studio Ghibli yang berusaha menggambarkan kekelaman perang melalui sosok kakak beradik yatim piatu – dan kunang-kunang. Poster design courtesy of Dan Sherrat.

Eh, geuning aya kica-kica“,

“Lho, kok ada kunang-kunang.” Begitu, untuk kesekian kalinya, seorang tamu mengujar heran dengan kehadiran binatang ini di teras rumah kami. Ya begitulah, alhamdulillah, sampai saat ini di lingkungan rumah kami kunang-kunang masih bisa dijumpai. Meskipun di musim kemarau cuman nampak satu dua, tapi di musim hujan bisa sampai dua atau tiga kali lipatnya. Kadang sampe nyasar masuk ke dalam rumah & terpaksa harus di”ungsi”kan keluar.

Tapi memang, semakin hari spesies ini semakin sulit dijumpai. Ketika sekitar dua tahun yang lalu saya sempat beberapa bulan menghabiskan waktu di Yogya, sama sekali tidak pernah saya menemukan kunang-kunang. Baik itu di kantor yang sebetulnya halamannya sangat luas, maupun di kost-an, yang juga banyak pohon. Aneh. Di rumah teman yang yang bertandang tersebut pun, yang sebetulnya daerah “pinggiran” Yogya, saya tidak pernah menemukannya.

Mungkin karena iklim Jogya yang relatif lebih panas daripada Bandung, mungkin juga karena tingkat kelembabannya (humidity), saya belum tahu persis. Namun sejak para tamu ini berulang kali membuat pernyataan seperti itu, sejak juga – mungkin karena nostalgia pengalaman sewaktu kecil (sewaktu kecil dulu, ketika binatang ini masih mudah ditemui, kami biasa menangkap, mengurungnya dalam toples dan bahkan menggencet & menempelkan badannya yang berpendar ke barang-barang, Masya Allah, maafkan saya), kunang-kunang berhasil menjadi topik khusus di pikiran saya. Sampai sekarang. Yang ternyata, setelah baca berbagai referensi di sana-sini, kepergian kunang-kunang ini berbicara tentang hal yang jauh lebih besar. Read more