S

alah satu yang pertama-tama kita harus ajak “ngobrol” dalam merebut kembali keyakinan kreatif kita adalah pikiran dan kesadaran: atau persisnya Persepsi.

Mengapa bisa begitu?

Apa yang terjadi di dunia nyata diakses melalui panca indera. Namun kita tidak melihat, mendengar, mencium (aroma), merasa, memikirkan, dan menyadari semua itu dengan mata, telinga atau lainnya. Panca indera berfungsi hanya sebagai sensor, “device” (alah, istilahnya) penginput data. Pikiran kita menggabungkan, melakukan seleksi, menaburi dramatisasi, manambahkan pengharapan, keyakinan dan lain sebagainya : memprosesnya, melalui mekanisme yang disebut sebagai Persepsi.

Persepsi ini adalah mekanisme yang kita gunakan dalam memahami apa yang terjadi di luar dan di dalam diri kita. Melalui berbagai komponennya (proximity/jarak, fokus, grouping, dsb), kita bisa merasa sebuah benda itu bergerak, satu orang itu sama atau punya kemiripan, satu situasi berbahaya, satu topik tertentu lebih penting dari topik lainnya, menghubungkannya kedalam pemikiran dan kesdaran yang lain dan atau/ menjadikannnya acuan pengembangan berbagai keputusan.

Namun persepsi juga berbatas. Dia bisa keliru. Bisa sangat keliru.

Kita me’lihat’ jalan semakin mengecil (dan merapat) di ujung, kita merasa satu bendabentuk dan warna tampak berbeda, kita men’dengar’ satu suara lebih besar ketika mendekat, kita me’rasa’  satu topik lebih penting karena di hadapan kita hadir – flesh and blood – orang yang sedemikian rupa ‘memanjakan’ indera kita melalui penghadiran topik tersebut. Padahal entah itu jalan, suara, aroma atau apapun, dari awal sampai akhir mungkin punya lebar, volume dan intensitas yang sama. Padahal entah itu orangnya hadir di hadapan kita atau tidak, satu topik mungkin sama saja penting atau tidak pentingnya.

Kita merasa lebih meyakini satu prilaku, kebiasaan, sudut pandang lebih benar dan lebih baik, bukan hanya karena sesuatu itu memang lebih baik atau lebih benar, namun karena persepsi kita meyakininya (persepsi dan memori ini bisa meyakini sesuatu yang berbeda dengan bagian kesadaran yang lainnya).

Ini ada hubungannya juga dengan Memori – bagaimana persepsi berkonspirasi (secara ‘underground’ tanpa kita sadari benar) dengan bagaimana kita memproses ingatan – dan juga Ekspektasi: bagaimana kita mengharapkan sesuatu terjadi di dunia nyata.

Kita mungkin sudah bisa memahami bahwa jalan tidaklah semakin kecil ketika menjauh. Melalui berbagai pembelajaran yang bertahap kita juga alhamdulillah sudah bisa cukup ‘waras’ sehingga tidak mengharapkan jalan, manusia, atau apapun benar-benar membesar ukurannya ketika mendekat. Namun dalam banyak konteks yang berbeda kita sering membiarkan kesadaran kritis yang sederhana itu terlepas sehingga keyakinan perseptif mengambil alih.

Ini seringkali terjadi bila situasi ini terlalu kompleks, gapnya terlalu besar, atau apapun itu, kurang sebanding dengan dibanding pengetahuan, kesadaran, skill, dan keyakinan yang kita miliki.

Kita mengharapkan traffic yang besar (secara instan) begitu kita mengeksekusi gagasan untuk menulis blog atau membuat website. Kita membayangkan ekspresi terselamatkan dari wajah-wajah para calon pengguna, atau klien, ketika kita merilis satu desain. Kita membayangkan (dan mungkin merencanakan sedemikian rupa) satu launching produk atau bisnis  yang – mungkin tidak seglamour acara-acara karpet merah dengan kelap kelip lampu blitz wartawan, acara penanda tanganan dan tepuk tangah yang meriah – tapi cukup penuh dengan orang-orang yang memperlakukan kita layaknya artis, rock star atau bahkan pahlawan. Yang memandang kita dengan mata terbelalak seakan bersedia menjadikan kita anak, istri, suami, guru, atau juru selamat: orang yang paling spesial yang pernah ditemui di sepanjang hidupnya :).

Dan begitu kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan tersebut, kita patah. Kreatifitas kita berhenti. Mungkin bahkan trauma dengannya. Tanpa menyadari bahwa kita mungkin sejak pertama melakukan hal yang keliru dengan menggantungkan kreatifitas kita hanya pada keyakinan perseptif, dan melupakan banyak hal – yang sepintas kecil – namun pada dasarnya adalah pondasi dari keberlangsungan kreatifitas kita kemudian.

Realitas itu tidak seperti film Hollywood. Realitas itu tidak seperti yang diberitakan – dicrop, dizoom, didramatisir, diolah sedemikian rupa demi menjadi berita, dan konten yang mendatangkan followers, likes, traffic, rating dan lain sebagainyaRealitas itu tidak seperti yang di ruang kelas perkuliahan simulasikan, dan buku-buku best seller jual sebagai sesuatu yang instan dan selalu gampang (meskipun sebagian kecil bisa jadi begitu).

Realitas itu penuh dengan ketidak pastian, yang acak, dan saling bertumpuk. Tampak sepi, dan meledak-ledak dalam waktu bersamaan. Terlihat benar padahal penuh dengan bias. Terasa logis padahal penuh dengan irasionalitas. Tampak sukses padahal penuh dengan eror, penyembunyian informasi, fraud (penipuan – yang halus ataupun jelas), kriminal, dan bahkan ‘gelap’.

Realitas itu stranger than fiction. Lebih absurd dari yang kita bisa ingat, persepsikan, dan bayangkan. Itu adalah bagian dari keindahannya.

So, setiap kali anda melakukan sesuatu yang kreatif: harapkan yang tidak tercantum dalam buku best seller. Yakini pencapaian yang tidak anda lihat di film-film atau berita.

The best is: lupakan saja semua itu, dan fokus pada pembangunan kebiasaan. Mengeksplorasi keunikan kita tanpa terlalu banyak menuntut.

Buat saya sendiri seringkali ini lebih lapang. Lebih menyenangkan. Lebih membebaskan.

Advertisements