Struktur dan fraktal pikiran

Struktur visual itu, kalau cuman bisa eksis sebatas yang sudah saya tulis disini sepertinya gampang banget ya. Kita mungkin nggak akan pernah lupa, selalu akurat dan nggak akan pernah eror kalau ngerjain apa-apa. Nyatanya, ini gampang-gampang susah karena seperti bahasa yang lain (verbal, oral, teks) ini juga kita cerna berlapis-lapis.

Kita men”cerna” sesuatu sebagai satu susunan tertentu:

lol-1

yang dalam waktu yang (hampir) bersamaan, tanpa kita sadari benar, kita juga me”mecah”kannya kedalam berbagai susunan yang lebih kecil: Read more

Advertisements

Struktur

Kata-kata dalam susunan tertentu akan memicu pemaknaan berbeda bila tersusun berbeda. Kalimat:

Senang bertemu dengan anda

misalnya, yang tersusun dalam urutan kata-kata dan huruf tertentu, memicu (pe)makna(an) khusus, yang berbeda dengan:

Anda bertemu dengan senang

atau

gnanes nagned umetreb adnA.

Hal yang kurang lebih sama berlaku terhadap kombinasi antara gambar dan kata- kata atau yang biasa kita sebut sebagai “grafis”.

Susunan grafis seperti ini: Read more

The bottleneck is clarity

Any moderate sized corporation is a wasteland of indecisiveness: it’s all committees, review meetings and endless email chains. We all know too many people have veto powers.

If you simply clarified who was the equivalent of a film director for a product, or a division, who was empowered to break ties, everyone would be freed to do better work: they’d spend more time actually working and less time fighting over turf.

Scott Berkun, on The Year Without Pants

Ya, sob. Bottleneck dari semua ketidak efisienan dalam mencapai tujuan profitabilitas, produktifitas, pembelajaran, atau apapun, bukanlah desain, bukanlah SDM, bukanlah kreatifitas, bukan pula apapun seperti yang sering disangkakan.

Saya adalah saksi hidup (selain Scott Berkun – dan banyak praktisi lainnya 🙂 ) bagaimana banyak organisasi mengembangkan double standar dalam memproses berbagai keputusan. Bagaimana banyak pengetahuan menjadi bias dan overused sehingga sulit dioperasikan. Bagaimana berbagai aktifisme menjadi overlooked karena ketidak konsintenan dalam prilaku, kebiasaan dan budaya, sehingga bahkan sebuah penyikapan yang kecil (yang anak kecil sekalipun bisa menilai hal tersebut sebagai hal yang berguna), misalnya: apakah dispenser ini perlu saya bantu gantikan?”, atau “apakah saya bisa membuat tulisan itu menjadi lebih terbaca?”, menjadi begitu sulit untuk dilakukan.

It’s amazingly ridicolous & uncool, how things could happened (and easily growing unnoticed) when maximizers taking over. 

Orang-orang berkonsentrasi terlalu banyak pada angka ketimbang fitrah manusia.

Work smart, baby. That’s obviously the issues big funded business found it easier to speak than to act. Inilah pula tepatnya, peluang paling besar dari start up business dengan sumber daya terbatas: karena pada dasarnya akan ada lebih banyak waktu, dengan lebih sedikit keribetan.

Keterbatasan itu sama sekali bukan halangan, itu adalah peluang.

There’s a reason why you’re all had a small business. So, you could just do it clearly!

Peta kecerdasan majemuk

Kali ini saya bakal nyatetin daftar kecerdasan/ kecakapan majemuk selain kognisi visual. Mudah-mudahan bisa membantu para orang tua pembaca blog ini dalam mengenali kecakapan khas yang berkembang di para putra/putrinya, atau mungkin juga dalam “membaca” dinamika kecerdasan yang (sejak jauh-jauh hari sebetulnya sudah dimiliki di) diri sendiri atau orang-orang sekitarnya:

  1. Musik-ritme-dan harmoni: kecerdasan dalam memproses suara, nada, ritme dan lagu.
  2. Visual-Spatial: kecerdasan dalam memproses elemen visual, ruang dan ruangan.
  3. Verbal-Linguistik: kecerdasan dalam bahasa verbal, meliputi membaca, menuliskan, melafalkan, memproses bahasa majemuk, aksen dan lain sebagainya
  4. Logika-Matematika: kecerdasan dalam menghubungkan, mengaitkan satu hal kepada hal lainnya, dan melakukan “pengukuran” (seriously, saya kenal dengan seorang anak yang kelihatannya untuk beliau menggambar itu seperti membuat matriks geometrik, dimana bagian demi bagiannya seolah di”rancang” sedemikian rupa supaya – bukan hanya cantik dan atraktif – namun juga bisa terukur dan terkontrol oleh sang penggambar)
  5. Bodily-Kinestetik: kecerdasan motorik. Meliputi motorik kasar, halus, termasuk juga bahasa tubuh.
  6. Interpersonal: kecerdasan dalam berhubungan dengan orang lain
  7. Intrapersonal: kecerdasan dalam berhubungan dengan diri sendiri, melalukan (r)evaluasi, pemahaman diri, etc
  8. Naturalistik: kecerdasan dalam memproses lingkungan alam di sekitarnya
  9. Eksistensial: kecerdasan dalam memproses spiritualitas.

Semua anak (Subhanallah!) pada dasarnya telah dibekali bukan hanya satu, namun semua kemampuan universal di atas sejak bayi. Namun memang porsi dan komposisinya seringkali berbeda sehingga satu anak mungkin lebih dominan di beberapa elemen, sementara anak lain di beberapa elemen yang berbeda.

Yang tidak kalah menakjubkannya adalah, seperti yang dialami lebih intens oleh Temple Grandin (dengan lebih berkembangnya kognisi visual) dan banyak pengidap autis lainnya, keterbatasan satu atau beberapa kecakapan tertentu seringkali memicu – entah itu disadari atau tidak – meningkatnya perkembangan kecakapan yang lain.

Informasi lebih jauh bisa disimak dari lama wikipedia, dan dari website Howard Gardner ini.

Selamat “membaca”.

Too much Design will kill you (2)

Sepanjang pengalaman saya menjadi praktisi dan juga akademisi, fenomena ini sudah terlalu sering terjadi. Kadang lucu, tapi seringnya memprihatinkan (tragis), dan juga mengkhawatirkan. Ya, ciuss 🙂, ini sesuatu yang terjadi setiap hari, setiap bulan di berbagai perusahaan, organisasi – dan juga akademi desain – yang kalau diukur, mungkin tidak akan terbayangkan berapa banyak sumbangsihnya kepada ketidak efisienan.

Dalam bayangan saya, potensi negatif ini bisa direduksi setidaknya melalui beberapa hal:

  1. Reduce*. Jika anda adalah praktisi (atau bercita-cita jadi praktisi), pembelajar, atau saat ini tengah mengerjakan kasus perancangan logo, keberhasilannya tergantung pada mengurangi, bukan menambahkan. Namun bukan hanya itu, mengurangi elemen konten (dan tampilan) – dan memprioritaskan pada yang benar-benar penting, seringkali terbukti membantu pengguna menemukan dan berkoneksi dengan satu produk, layanan, merek atau informasi. Ini kayak berdiet. Tetap sehat dan “waras” dengan melakukan hal-hal yang benar-benar dibutuhkan, meskipun secara jumlah mungkin sedikit.
    Ini juga berarti, mengurangi elemen pemrosesan. Mengurangi jumlah sketsa mungkin, mengurangi distraksi dan sumber distraksi, atau apapun hal yang menyulitkan orang untuk berfokus pada pikiran, arahan, gagasan dan prilaku yang benar-benar relevan dan faktual.
  2. Evidence based. Hindari asumsi. Berfokus pada apa yang benar-benar terjadi dan terdata (ini kesatuan, tidak hanya salah satu).
  3. Stay simple, atau kalau perlu (untuk beberapa waktu misalnya): jadilah minimalis. Being maximizer (semacam mindset untuk mengkorelasikan kuantitas atau jumlah sebagai indikator pencapaian) itu bukannya tanpa konsekwensi. Ini seringkali memicu seseorang (atau organisasi) dalam kesulitan untuk berfokus dan atau/ mengambil fokus yang keliru dalam menganalisa permasalahan atau mengembangkan solusi (ini juga meningkatkan tingkat stress). Kurangi potensi blunder dan reaksi berlebihan dengan memproses sedikit demi sedikit – melalui tahapan demi tahapan kecil – ketimbang “diberegedegkeun” (istilah bahasa sunda untuk sesuatu yang ditumpukkan sekaligus di satu tempat dan dalam satu waktu).

Lihat, bahkan melalui bahasa sunda yang sudah begitu tua ini sekalipun kita bisa tahu bahwa pada dasarnya apa yang “terlalu banyak” itu seringkali  jadi masalah.

*) satu hal yang tidak saya sarankan dalam pengurangan ini adalah pengurangan honor. Serius, mayoritas pemrosesan maupun pembelajaran desain kita masih dihargai terlalu rendah – secara finansial – daripada yang dibutuhkan. :).

Too much Design will kill you (1)

Terlalu banyak elemen (konten) didalam satu desain bisa mendistraksi pengguna dari elemen yang benar-benar paling
penting, yang menjadi “keyword“, frame of reference atau “pemikat” yang dibutuhkan ketika mengidentifikasi satu produk,
atau berhubungan dengan satu informasi. Coba anda ingat-ingat betapa seringnya anda sulit mencari satu barang, atau membaca satu informasi di media promosi tertentu karena ada terlalu banyak materi yang seolah berebut menarik perhatian anda disitu.

Terlalu banyak sketsa bisa memakan lebih banyak waktu, mendistraksi pada pseudo solusi (beberapa orang bereaksi berlebihan terhadap tampilan atau visual, ini bisa memicu solusi palsu), atau proses pemilihan (dan pengambilan keputusan) yang berbelit-belit (looping) yang menguras enerji, boros dan pastinya tidak efisien.

Terlalu banyak pertimbangan, apalagi yang didasarkan kepada opini dan asumsi, juga bisa menghadirkan “cripling“, efek
melumpuhkan dimana orang-orang bingung, takut, atau terdistraksi kepada bias dan miskonsepsi.

Dalam berbagai kelas di perkuliahan desain, “terlalu banyak desain” ini berlangsung melalui mekanisme dimana ada banyak
sekali “tugas” dan materi yang diberikan kepada para pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran – apakah seseorang
menguasai suatu skill, satu pengetahuan, dan apakah ada terdapat satu perubahan kreatif dari penguasaan tersebut –
jadi lebih sulit diakses dan para pihak pembelajar terjebak dalam semacam blunder yang berulang.

How come? kenapa bisa begitu? Read more

Don’t worry about the numbers

Jumlah revenue, omset, penghasilan, karyawan, rating, likes, follower, follower back, posting, thread, saldo rekening anda (hiks :)), dsb, dsb, dsb. Ketika angka-angka ini berhasil mendistraksi anda dari hasrat dan usaha untuk menjadi berguna, mengerjakan lebih baik dalam membantu – bahkan hanya satu orang saja – menyelesaikan masalahnya, that’s exactly when you’re screwed. Dikalahkan oleh angka.

Don’t worry about permission

Distributor, outlets, penulis tenar, penerbit, konselor, advisor, konsultan, atasan, bawahan, keluarga, idola anda, tidak ada satupun yang – bahkan ketika mereka sukses dalam melakukan satu hal – mempunyai latar belakang yang sama persis dengan yang anda punyai.

So, stop looking for permission. Just do what you think.

Afterall, kebanyakan orang akan menjadi permisif – memberikan pengesahan – untuk hal yang berguna bagi mereka. Masalahnya ada di pikiranmu, bukan di mereka. Why worry about permission?