the-isolator-640x539
The Isolator, a helmet for encouraging concentration. More here

 

B

agian paling sulit dari desain (dan kreatifitas), sepanjang pengalaman dan pengamatan saya bukanlah mengenai How to make atau bagaimana membuat sesuatu.  Mekanisme, tahapan, atau bahkan panduan mengenai hal tersebut sudah begitu banyak, dan saat ini bukan sesuatu yang benar-benar masalah. Ketikkan keyword di mesin pencari dan, voila!, berbagai informasi mengenai pembuatan ada di ujung jari (+ google translate, bila anda kesulitan memahaminya dalam bahasa Indonesia 🙂 ). Jika saat ini pun anda – setidaknya – adalah desainer madya (yang sudah melalui beberapa tahun berkarir), anda tahu benar, memvisualkan, atau merangkai visual tertentu seringkali hanya butuh waktu lebih sedikit dari keseluruhan proses yang dibutuhkan.

Bagian paling sulitnya adalah, “Mau bikin apa”, atau “mau dibikin seperti apa desainnya emang?”.

Seriously. Kebanyakan kasus dimana desain sulit keliru memprioritaskan konten, sulit dibaca, tidak kompak, atau bahkan kurang berdaya jual, biasanya keluar karena – entah itu desainer, anggota team yang terlibat, atau bahkan para komisaris yang melakukan seleksi – tidak tahu mau dibikin seperti apa desainnya.

Gejalanya biasanya mirip. Bahkan kalau kita ngomongin visualisasi atau pengeksekusian tampilan sekalipun, what we use, will using us Berbagai “perkakas” yang dimanfaatkan bisa balik me’nelan’, dan desainer maupun team desain bisa ‘lenyap’ secara psikis di dalam lautan huruf, warna, layout, gambar dan lain sebagainya. Anda yang pernah belajar atau setidaknya mencoba mendesain grafis, apapun itu, pasti tahu benar betapa mempesona dan melelahkannya hal tersebut (melihat, membayangkan, memilih, mengganti, melihat lagi, membayangkan lagi, satu demi satu segala elemen grafis tersebut untuk kemudian berubah pikiran, membongkar dan kembali melihat, membayangkan, mencoba, terus dan terus).

Dalam situasi dimana desain bisa dikoreksi berkali-kali tanpa mengetahui persis seperti apa yang benarnya ini, anggota team bisa terkuras dan semakin terkuras energinya sehingga hasil akhir bahkan kemudian tidak/ less sophisticated.

Tentunya, ada banyak faktor pemicunya. Seringkali terjadi karena desainer dan team desain terlalu sibuk mengacu kepada hasil akhir orang lain. Lupa, atau tidak sadar dengan konteks persoalan yang dimilikinya. Bahwa itu begitu spesifik sehingga ketika hasil akhir orang lain tersebut direplikasi, sejak awal: entah itu ukuran dan format media, jumlah kata di dalam headline, informasi teks, dan berbagai hal yang dimilikinya, sudah terasa jomplang. Seringkali ini juga karena faktor malas. Budaya kepemimpinan diktator dan/ atau perpaduan prilaku kompulsif yang “ujug-ujug” (tiba-tiba/histeris). Tiba-tiba berubah, tiba-tiba bener, tiba-tiba salah, padahal seringkali, latar belakang dibalik perubahan-perubahan ini belum melewati masa inkubasi atau perumusan fakta yang valid.

Sebagian besar dari persoalan ini berhubungan dengan jumlah. Semakin banyak orang yang dilibatkan, semakin banyak elemen yang diikutkan, semakin banyak pertimbangan yang dipikirkan.. Sebagian lagi berhubungan dengan kesiapan skill, pengetahuan dan berbagai yang tidak bersifat fisik yang melingkupi proses: motivasi, tingkat kepercayaan dan lain sebagainya. Tapi memang, meskipun memang tidak selalu akan berakhir dengan defisit, namun semakin banyak elemen yang dilibatkan selalu akan semakin rumit pemrosesan juga sumber daya yang dipertaruhkan. Dan ini, meskipun secara persepsi, seperti ketika tulisan ini dibaca kelihatan mudah, dalam prakteknya adalah sesuatu yang berdarah-darah.

Namun, seperti apapun itu latar belakangnya dan apapun akibatnya, terkadang saya rasa blunder  ini berbicara mengenai benchmark deficit. Semacam kekurangan, ketidak tegas atau ketidak jelasan acuan. Bagi beberapa desainer dan juga beberapa team desain nampaknya berlaku seperti itu. Mereka bisa lebih cepat mengeksekusi sebuah desain begitu mendapatkan acuan kasat mata yang tegas, dalam hal ini berupa acuan mengenai tampilan dan berbagai elemen tampilan, ukuran, format, jenis media dan lain sebagainya.

Namun di kasus lain  nampaknya ini berbicara mengenai hal yang lebih mendalam. Mengenai hilang atau kurangnya sense of purpose. Semacam elaborasi rasa dan logika yang hisa mengaitkan benchmark dan berbagai acuan tersebut sebagai bagian dari pemecahan sebuah persoalan, dan bagaimana – entah apa yang ada di dalam proses tersebut – bisa menjadi sebuah goal/ tujuan yang membanggakan.

Ini juga kelihatannya berbicara mengenai senses of problem recognition. Kepekaan dan ketrampilan dalam mengenali, memilah, memilih – menavigasi diri diantara berbagai lapisan masalah yang tumpang tindih dan seringkali begitu abstrak untuk dipikirkan ketimbang dilakukan.

Namun, khusus mengenai fenomena yang terakhir ini kita coba telusuri bahas di bagian berikutnya (to be continued)

Advertisements