Banyak orang memandang kreatifitas sebagai serangkaian kemampuan berpikir. Diluar kebiasaan, otentik, divergen (menyebar), holistik, dan lainnya. Dalam perjalanannya menjadi kreatif, orang-orang kemudian mengasosiasikan berpikir kreatif sebagai bagian paling penting didalam kreatifitas. Bahwa kalau saya ingin menjadi menjadi kreatif maka saya harus sedemikian rupa me”maksa” pikiran saya agar berpikir kreatif, seperti itu.

Beberapa ada yang survive, kebanyakan ber”gelimpangan”. Terlalu tenggelam di dalam pikiran so-called creative, sehingga bahkan menjadi tidak (atau kurang) kreatif, atau bahkan traumatis dengan kreatifitas. Berkeringat, bereaksi berlebihan, dan atau gentar begitu mendengar hanya istilahnya saja.

Kenapa bisa begitu?

Karena pada dasarnya berpikir kreatif dan menjadi (being) kreatif adalah dua hal yang berbeda. Yang satu adalah aktifitas otak, kesadaran dan kognisi, sementara satu lagi adalah prilaku. Meskipun berpikir, kesadaran dan prilaku dalam banyak hal adalah sesuatu yang berhubungan (kita mengerjakan sesuatu karena kita memikirkan, atau menyadarinya), namun kita tahu sendiri, hubungan diantara kedua hal tersebut tidaklah selalu sesuatu yang benar-benar tersadari.

Anak-anak kecil itu sudah berprilaku kreatif tanpa terlalu banyak memikirkannya. Mereka bahkan menjadi kreatif tanpa menyadari apa yang dilakukannya tersebut adalah (dan atau/ sebagai) kreatifitas.

Kesadaran, dan pikiran tidak selalu berhubungan dengan prilaku secara positif. Karena begitu seseorang berpikir, orang tersebut akan melewati mekanisme pikiran yang kita tahu sendiri tidak pernah tidak: adalah pemrosesan yang kompleks. Melewati banyak hal mengenai persepsi, memori, metakognisi, berbagai lapisan fraktal pikiran. Adalah sebuah pencapaian khusus, dengan effort, “pengorbanan” dalam kurun waktu yang mungkin tidak sedikit pula, sehingga seseorang bisa sedemikian rupa bertahan, dan melewatinya menjadi semakin kreatif. Sebagian orang yang “terjebak” di dalam pikiran kreatif tersebut – karena tidak menyadari bahwa hal tersebut membutuhkan penanganan: ketekunan, latihan, dan kesiapan berbagai hal tertentu – berakhir tidak (atau kurang) kreatif dan melabelinya sebagai “racauan muluk” masa muda, “mengada-ada”, dan lain sebagainya. Membuangnya begitu saja, menjauhinya, menyampaikan ke orang-orang bahwa itu hal yang tidak berguna, didalam ketidak fahaman.

Seriously, kita kudu bener-bener bersabar dan berdamai dengan pikiran kita. Don’t push it too hard and or – sometimes – just not to take it too serious. Caranya adalah dengan tidak menggantungkan prilaku dan usaha untuk menjadi kreatif kita – hanya – berdasarkan pikiran kreatif. Tidak menggantungkan kreatifitas begitu semuanya dirasa “beres” secara pikiran atau kognisi.

Just  play. Jadilah – saja – kreatif, seperti anak-anak kecil.

Kalau sesuatu itu menyenangkan untuk kita dan berguna untuk orang lain, apalagi yang harus dipikirkan bukan?

Advertisements