Let’s face it. Budaya konformitas kita punya banyak sekali cara untuk mematikan semangat, hasrat dan prilaku kreatif – secara halus maupun eksplisit. Beberapa klien saya (secara halus) melabeli prilaku saya sebagai “egois” (huh!). Jauh-jauh hari sebelum itu, sewaktu kecil – SMP, SMU, kuliah –  setiap orang saya kira punya pengalaman – entah itu dari teman, atau keluarga – dimana prilaku yang berbeda kemudian dilabeli sebagai sesuatu yang “egois”, “sok tahu”, “sok mandiri”, atau lain sebagainya.

Pelabelan yang pada dasarnya adalah over react (bereaksi berlebihan), dan seringkali adalah Bully psikologis (mental) ini membuat banyak orang terkondisikan sedemikian rupa agar”play save”. Meng”aman” dan memadamkan kreatifitas mereka dan menurunkan keyakinan, dan kepercaya dirian kreatif (creative confidence), bagian paling penting dan pada dasarnya adalah pondasi pertumbuhan kreatifitas dari setiap orang.

So, jika didalam usaha anda untuk menjadi (lebih) kreatif seseorang menanggapi anda melalui bahasa tersebut, siapkan counternya, misal:

-. “Ah, dasar kamu mah egois.”
+. “Biarin gua egois, daripada elu munafik. Sok melayani orang padahal buat kepentingan lu sendiri.”

-. “Sotoy (sok tahu) lu ah.”
+. “Biarin gwa sotoy, daripada elo pelit. Punya ilmu/ informasi disimpen sendiri.”

The best is, keep this counter bully in your heart, pelajari mengapa orang melabeli anda seperti itu (beberapa orang pada dasarnya tidak sengaja, keliru istilah, dan mungkin memang bereaksi karena kekeliruan anda dalam memberikan respon), dan mungkin lebih mudah untuk dihindari saja. Tapi kalau bullynya semakin ekstrim, mungkin suatu saat anda harus mengeksplisitkannya, minimal agar orang tersebut tahu lebih banyak mengenai apa yang anda pikirkan, dan anda bisa tetap percaya diri dengan kreatifitas anda.

Egois atau tidak, anda melakukan counter bully atau tidak, apakah seseorang melalukan kreatifitas semata untuk kepentingan sendiri atau untuk lebih banyak orang, apapun itu hal yang diekspresikan seseorang sesungguhnya tidaklah ada hak dari orang lain untuk memberinya label negatif. Apalagi sesuatu yang pada dasarnya adalah bias, yang secara definitif pun bukan sesuatu yang benar (egois adalah mengacu kepada dikotomi psikoanalitik Sigmun Freud mengenai Ego dan Super Ego, melalui dikotomi ini Freud bahkan mengutarakan bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki kedua hal tersebut!).

Dan jangan lupa, orang-orang ingin lebih didengarkan, dan pada dasarnya menunggu manfaat dari kreatifitas anda ketimbang rasionalisasi, atau justifikasi, atau cuman pikiran atau hanya perkataan. Jadi fokuskan energi anda lebih banyak kesitu.

Advertisements