“Saat itu saya pikir dia gila,” kata Andrew Goldberg, direktur bedah sinus dan rhinology (bidang kedokteran yang mempelajari per-hidung-an) ketika menceritakan pengalamannya mengobati salah satu pasien pengidap infeksi telinga.

Tahun 1986 itu Andrew muda tengah residensi (praktek magang) kedokteran di UPSM (University of Pittsburgh School of Medicine), ketika seorang pasien pengidap infeksi telinga datang ke kliniknya. Pasien tersebut mengidap infeksi di salah satu telinga. Berbagai penganganan standar dilakukan, berulang kali, namun infeksinya tak kunjung sembuh. Sampai suatu ketika sang pasien datang, sumringah karena pendengarannya membaik, dan (sesudah dipersiksa) memang infeksinya pun sudah hilang.

“Mau tahu gimana gimana cara saya menyembuhkannya?”, tanya sang pasien kepada Andrew yang terheran-heran. “Saya keluarkan kotoran* telinga yang sehat dan masukan ke telinga yang kena infeksi. Beberapa hari kemudian infeksinya hilang”.

Di tahun 80-an infeksi telinga memang adalah penyakit yang “umum”. Banyak masyarakat menderita infeksi bahkan di kedua belah telinganya. Pengobatan standar untuk penyakit ini adalah antibiotik, anti jamur, obat-obatan lain pereduksi atau pemusnah mikrobiota (organisme mikro, bakteri dan lain sebagainya). “Kami (komunitas kedokteran) bangga dengan pencapaian itu.” Kata Dr. Andrew. Tapi tidak sampai pada beberapa dekade kemudian, ketika di tahun 2000-an Andrew melakukan investigasi terhadap penyebab penyakit infeksi telinga dan menemukan bahwa di dalam kotoran telinga itu hidup banyak sekali spesies bakteri yang somehow mempengaruhi kesehatan telinga itu sendiri. “Pemberian antibitotik,” kata Andrew,”mungkin bahkan bisa menghancurkan keberadaan (dan keseimbangan) bakteri di kedua atau sebelah telinganya.That guy wasn’t crazy; he was right.

Dr. Andrew, akhirnya bisa faham mengapa pasien tahun 80-annya itu benar. Dengan me’migrasi’kan bakteri dari lingkungan yang sehat ke lingkungan yang sakit, sang pasien melakukan “self healing” menyeimbangkan kinerja bakteri diantara kedua belah telinga, seperti yang sudah seharusnya.

Saya tidak sedang menyarankan anda melakukan hal yang sama untuk infeksi telinga anda atau siapapun orang yang mengidapnya. Please, jangan dibiaskan. Sebaiknya tetap berkonsultasi dulu dengan tenaga profesional untuk itu :).

Namun, lepas dari apakah anda hendak me”migrasikan” bakteri telinga anda atau tidak (atau me”migrasi”kan ke diri sendiri atau orang lain 🙂 ). Bukan hanya pada telinga, bakteri dan berbagai jenis mikrobiota hidup didalam tubuh kita tanpa kita sadari. Terhitung sekitar 10000 spesies, hidup di berbagai bagian tubuh, dari mulai organ eksternal: telinga, ketiak, kaki, tangan, badan, sampai ke organ internal.

Mikrobiota ini tidak ditempatkan tanpa sebab. Mereka hidup, “bekerja” melalui keunikannya masing-masing dalam mekanisme saling menyeimbangkan. Kekurangan populasi jenis bakteri tertentu hampir dapat dipastikan akan memicu over populasi bakteri lain, memicu berlebih (atau berkurang) nya zat atau hormon tertentu, yang mungkin men”hancurkan” sistem keseimbangan tubuh, sehingga memungkinkan berkembangnya berbagai penyakit. Dapat dipastikan bahwa kehidupan manusia di setiap detiknya tidak dapat dipisahkan dari kinerja rekan-rekan superkecil ini.

Lebih tergantung daripada yang kita bisa bayangkan. Karena pada dasarnya, ketika seorang bayi manusia lahir normal, dia akan langsung berkenalan (di”rubungi” persisnya) oleh seluruh koloni bakteri yang (terlebih dahulu) berkembang di mulut saluran lahir sang ibu. Momen-momen perkenalan pertama yang menentukan, hingga suatu masa ketika manusia tumbuh, dewasa – tanpa mengetahui bahwa pada dasarnya setiap detiknya hidup kita ditentukan oleh rekan-rekan kecil yang kita tidak kenali ini – mungkin mengurangi, memusnahkan, atau tidak menghargai rekan-rekan penunjang hidupnya tanpa sadar.

Hiii. Jangan sampai deh.

Simak cerita dan studi lengkapnya mengenai rekan-rekan superkecil kita ini dari sini dan sini.

 

*) dalam bahasa Inggris istilahnya adalah “Ear “Wax”(lilin)”, dengan arti dan konotasi yang sama sekali bukan kotoran.

Advertisements