Struktur visual itu, kalau cuman bisa eksis sebatas yang sudah saya tulis disini sepertinya gampang banget ya. Kita mungkin nggak akan pernah lupa, selalu akurat dan nggak akan pernah eror kalau ngerjain apa-apa. Nyatanya, ini gampang-gampang susah karena seperti bahasa yang lain (verbal, oral, teks) ini juga kita cerna berlapis-lapis.

Kita men”cerna” sesuatu sebagai satu susunan tertentu:

lol-1

yang dalam waktu yang (hampir) bersamaan, tanpa kita sadari benar, kita juga me”mecah”kannya kedalam berbagai susunan yang lebih kecil:

lol-2A

Mengakurkannya satu sama lain, mungkin juga dengan hal-hal yang lebih besar lagi:

metakognisi_revaluasi

Fenomena ini bukan hanya karena satu struktur tertentu terdiri dan menyusun struktur yang lain (atau yang juga disebut sebagai “fraktal“), tapi karena pada dasarnya manusia itu berpikir berlapis-lapis. Pikiran kita itu bekerja melalui semacam “arsitektur” atau susunan berlapis, seringkali membentuk un-ended looping (“ujung” dari sesuatu adalah juga awal dari sesuatu yang lain – rotasi yang tidak berujung), persis fraktal.

Dari sini mungkin bisa kebayang, kenapa berpikir yang pada dasarnya adalah sesuatu yang sangat berguna, juga bisa jadi sumber banyak permasalahan. Karena pada dasarnya, meskipun kita sudah dikaruniai (tanpa harus membayar) dan berlatih sejak kecil sehingga kita bisa sedemikian rupa mengeksekusinya dalam hitungan beberapa mili detik saja, kita suka lupa – entah itu keasyikan menyelami berbagai lapisan struktural ini sampe lupa sama nilai guna-nya (bagi kita atau orang lain), kurang bisa ngoperasiin jadi suka lambat dan mencemooh orang lain yang mencoba untuk terus berlatih, atau bahkan menghindari dan bahkan me-negasi bahwa setiap harinya – bahwa di setiap detiknya, kita menggantungkan banyak hal dari mekanisme seperti ini. Bahwa mekanisme pikiran yang unik ini tidak diberikan ke kita tanpa alasan.

Bukan untuk ditakuti tentunya, tapi untuk diajak berdamai.

Advertisements