Kata-kata dalam susunan tertentu akan memicu pemaknaan berbeda bila tersusun berbeda. Kalimat:

Senang bertemu dengan anda

misalnya, yang tersusun dalam urutan kata-kata dan huruf tertentu, memicu (pe)makna(an) khusus, yang berbeda dengan:

Anda bertemu dengan senang

atau

gnanes nagned umetreb adnA.

Hal yang kurang lebih sama berlaku terhadap kombinasi antara gambar dan kata- kata atau yang biasa kita sebut sebagai “grafis”.

Susunan grafis seperti ini:

lol-1

akan memicu pemaknaan yang berbeda dibanding susunan seperti ini:

lol-2

ini:

lol-3

atau ini:

lol-4

Tentunya ada banyak faktor yang melatar belakangi, dan ada banyak penjelasan mengapa kita manusia melakukan sesuatu seperti ini. Namun untuk sekarang, kita bisa mempelajari setidaknya dua hal mendasar:

    1. Bahwa manusia berkomunikasi (mempersepsikan, menafsirkan, memikirkan, memberikan respon, dan lain sebagainya) dalam semacam mekanisme struktural dimana yang menentukan bukanlah hanya keberadaan (dan kualitas keberadaan) dari satu (atau beberapa) elemen, namun juga bagaimana elemen-elemen tersebut disusun kedalam satu rangkaian.

 

  1. Bahwa prilaku grafis (dan juga visual) yang kita kerjakan itu sebuah Komunikasi, dan elemen-elemen maupun faktor pendukungnya – seperti juga dalam verbal/ kata-kata dan tulisan – adalah Bahasa.

    Bukan hanya “seni” mengindah-indah secara estetik (meskipun somehow “keindahan” memang terlibat disitu), pun tidaklah pernah hanya sekedar “seni urakan”.

 

Advertisements