Any moderate sized corporation is a wasteland of indecisiveness: it’s all committees, review meetings and endless email chains. We all know too many people have veto powers.

If you simply clarified who was the equivalent of a film director for a product, or a division, who was empowered to break ties, everyone would be freed to do better work: they’d spend more time actually working and less time fighting over turf.

Scott Berkun, on The Year Without Pants

Ya, sob. Bottleneck dari semua ketidak efisienan dalam mencapai tujuan profitabilitas, produktifitas, pembelajaran, atau apapun, bukanlah desain, bukanlah SDM, bukanlah kreatifitas, bukan pula apapun seperti yang sering disangkakan.

Saya adalah saksi hidup (selain Scott Berkun – dan banyak praktisi lainnya 🙂 ) bagaimana banyak organisasi mengembangkan double standar dalam memproses berbagai keputusan. Bagaimana banyak pengetahuan menjadi bias dan overused sehingga sulit dioperasikan. Bagaimana berbagai aktifisme menjadi overlooked karena ketidak konsintenan dalam prilaku, kebiasaan dan budaya, sehingga bahkan sebuah penyikapan yang kecil (yang anak kecil sekalipun bisa menilai hal tersebut sebagai hal yang berguna), misalnya: apakah dispenser ini perlu saya bantu gantikan?”, atau “apakah saya bisa membuat tulisan itu menjadi lebih terbaca?”, menjadi begitu sulit untuk dilakukan.

It’s amazingly ridicolous & uncool, how things could happened (and easily growing unnoticed) when maximizers taking over. 

Orang-orang berkonsentrasi terlalu banyak pada angka ketimbang fitrah manusia.

Work smart, baby. That’s obviously the issues big funded business found it easier to speak than to act. Inilah pula tepatnya, peluang paling besar dari start up business dengan sumber daya terbatas: karena pada dasarnya akan ada lebih banyak waktu, dengan lebih sedikit keribetan.

Keterbatasan itu sama sekali bukan halangan, itu adalah peluang.

There’s a reason why you’re all had a small business. So, you could just do it clearly!

Advertisements