Sepanjang pengalaman saya menjadi praktisi dan juga akademisi, fenomena ini sudah terlalu sering terjadi. Kadang lucu, tapi seringnya memprihatinkan (tragis), dan juga mengkhawatirkan. Ya, ciuss 🙂, ini sesuatu yang terjadi setiap hari, setiap bulan di berbagai perusahaan, organisasi – dan juga akademi desain – yang kalau diukur, mungkin tidak akan terbayangkan berapa banyak sumbangsihnya kepada ketidak efisienan.

Dalam bayangan saya, potensi negatif ini bisa direduksi setidaknya melalui beberapa hal:

  1. Reduce*. Jika anda adalah praktisi (atau bercita-cita jadi praktisi), pembelajar, atau saat ini tengah mengerjakan kasus perancangan logo, keberhasilannya tergantung pada mengurangi, bukan menambahkan. Namun bukan hanya itu, mengurangi elemen konten (dan tampilan) – dan memprioritaskan pada yang benar-benar penting, seringkali terbukti membantu pengguna menemukan dan berkoneksi dengan satu produk, layanan, merek atau informasi. Ini kayak berdiet. Tetap sehat dan “waras” dengan melakukan hal-hal yang benar-benar dibutuhkan, meskipun secara jumlah mungkin sedikit.
    Ini juga berarti, mengurangi elemen pemrosesan. Mengurangi jumlah sketsa mungkin, mengurangi distraksi dan sumber distraksi, atau apapun hal yang menyulitkan orang untuk berfokus pada pikiran, arahan, gagasan dan prilaku yang benar-benar relevan dan faktual.
  2. Evidence based. Hindari asumsi. Berfokus pada apa yang benar-benar terjadi dan terdata (ini kesatuan, tidak hanya salah satu).
  3. Stay simple, atau kalau perlu (untuk beberapa waktu misalnya): jadilah minimalis. Being maximizer (semacam mindset untuk mengkorelasikan kuantitas atau jumlah sebagai indikator pencapaian) itu bukannya tanpa konsekwensi. Ini seringkali memicu seseorang (atau organisasi) dalam kesulitan untuk berfokus dan atau/ mengambil fokus yang keliru dalam menganalisa permasalahan atau mengembangkan solusi (ini juga meningkatkan tingkat stress). Kurangi potensi blunder dan reaksi berlebihan dengan memproses sedikit demi sedikit – melalui tahapan demi tahapan kecil – ketimbang “diberegedegkeun” (istilah bahasa sunda untuk sesuatu yang ditumpukkan sekaligus di satu tempat dan dalam satu waktu).

Lihat, bahkan melalui bahasa sunda yang sudah begitu tua ini sekalipun kita bisa tahu bahwa pada dasarnya apa yang “terlalu banyak” itu seringkali  jadi masalah.

*) satu hal yang tidak saya sarankan dalam pengurangan ini adalah pengurangan honor. Serius, mayoritas pemrosesan maupun pembelajaran desain kita masih dihargai terlalu rendah – secara finansial – daripada yang dibutuhkan. :).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s