Terlalu banyak elemen (konten) didalam satu desain bisa mendistraksi pengguna dari elemen yang benar-benar paling
penting, yang menjadi “keyword“, frame of reference atau “pemikat” yang dibutuhkan ketika mengidentifikasi satu produk,
atau berhubungan dengan satu informasi. Coba anda ingat-ingat betapa seringnya anda sulit mencari satu barang, atau membaca satu informasi di media promosi tertentu karena ada terlalu banyak materi yang seolah berebut menarik perhatian anda disitu.

Terlalu banyak sketsa bisa memakan lebih banyak waktu, mendistraksi pada pseudo solusi (beberapa orang bereaksi berlebihan terhadap tampilan atau visual, ini bisa memicu solusi palsu), atau proses pemilihan (dan pengambilan keputusan) yang berbelit-belit (looping) yang menguras enerji, boros dan pastinya tidak efisien.

Terlalu banyak pertimbangan, apalagi yang didasarkan kepada opini dan asumsi, juga bisa menghadirkan “cripling“, efek
melumpuhkan dimana orang-orang bingung, takut, atau terdistraksi kepada bias dan miskonsepsi.

Dalam berbagai kelas di perkuliahan desain, “terlalu banyak desain” ini berlangsung melalui mekanisme dimana ada banyak
sekali “tugas” dan materi yang diberikan kepada para pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran – apakah seseorang
menguasai suatu skill, satu pengetahuan, dan apakah ada terdapat satu perubahan kreatif dari penguasaan tersebut –
jadi lebih sulit diakses dan para pihak pembelajar terjebak dalam semacam blunder yang berulang.

How come? kenapa bisa begitu?

Dua hal. Pertama; karena para pengguna desain: pengguna objek (terdesain), pengguna satu informasi mengenai desain
berkorelasi melalui caranya masing-masing yang seringkali out of radar dari benak para pencipta, para pengajar (yang kebanyakan berfokus dari dalam keluar, dan mengandalkan asumsi – bukan fakta). Sehingga apa yang dirancang oleh para pencipta bisa bukan hanya “nggak nyambung” dengan apa yang benar-benar dibutuhkan, namun juga bisa malah menghadirkan masalah baru, yang tanpa disadari benar memicu blunder yang tidak efisien.

kedua; Desain adalah prilaku yang melibatkan lebih banyak aspek kesadaran dan atau/ pikiran. Seseorang bisa membuat begitu saja sesuatu, namun seseorang mungkin akan mengalami kesulitan khusus ketika prilaku tersebut diletakkan dalam konteks “perancangan” yang sistematik.

Desain itu berbeda dengan “making“, atau “just make“. Latar belakang epistemologi (bidang keilmuan) modern yang dimilikinya akan mendudukkan seseorang untuk mempersepsikannya di dalam satu konteks dengan lebih banyak kesadaran, kognisi dan pemikiran. Perusahaan mencari para profesional desain, banyak orang “kuliah” untuk mempelajari desain, sebagai sebuah pengetahuan, skill, dan kesadaran khusus. Ini hal fundamental yang seringkali bahkan – bisa kita amati dengan mudahnya dari prilaku banyak profesional desain (baik itu desainer langsung ataupun pihak lain yang berhubungan secara intens dengan desain) – begitu seseorang telah mengenali Desain, orang tersebut mengalami kesulitan untuk “just making“, membuat sesuatu begitu saja (Chip & Dan Heath mengistilahkannya sebagai “The Curse of Knowledge“, “kutukan pengetahuan”. Bahwa pengetahuan itu seperti tiket satu arah. Begitu kita berhasil mengaksesnya, bukan hanya hidup kita akan berubah – secara sadar atau tidak -, namun cara pandang kita menjadi berubah, sedemikian rupa sehingga kita mengalami kesulitan dalam mengakses cara pandang kita sebelum mendapatkan pengetahuan tersebut).

Ini juga berarti bahwa Desain pada dasarnya akan me”minta” campur tangan bukan hanya kesadaran mengenai “rancangan” atau tampilan, namun  bahkan juga kesadaran mengenai “perancangan”, pemikiran mengenai pikiran, atau dengan kata lain: metakognisi.

Dan disinilah tepatnya mengapa desain menjadi overlooked (dilihat berlebihan), gagal atau sulit dioperasikan, dan memicu
masalah (baru). Karena pada dasarnya, gap yang ada didalam lingkungan dimana desain dikembangkan (atau digunakan) menjadi terlalu besar. Orang-orang mengharapkan lebih banyak daripada apa yang benar-benar bisa terjadi, berada di dalam ketegangan dengan lebih banyak sekali bias, miskonsepsi, dan asumsi ketimbang kesadaran dan acuan faktual. Diantara mekanisme kontrol yang (tetaplah) sulit dilakukan.

Ini paradoks yang sangat mendasar yang sering sekali terjadi, dan saya kira menghambat terfungsikannnya tugas mendasar dari desain: untuk membantu orang. Bukan sebaliknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s