“Saya pasang siluet wanita berjilbab soalnya novelnya membahas mengenai wanita muslim… saya pasang objek dekoratif di belakangnya juga untuk menyimbolkan sesuatu yang feminin …”

Saya ingat betul kalimat yang disampaikan salah satu pelamar desainer kover tersebut ketika suatu saat saya menanyakan objek apa itu yang ada di desainnya dan mengapa beliau merancang kovernya seperti itu?. Penjelasan yang mengingatkan saya sama banyak pelajar dan beberapa desainer profesional ketika mencoba merancang logo, poster, brosur atau produk-produk desain lainnya.

“gambar ini saya pakai untuk menyimbolkan … “

“Jadi, konsep filosofis logo ini adalah , blah, blah blah.

Gestur yang mengingatkan saya pada momen-momen sulit ketika saya diminta menjelaskan kepada banyak orang di organisasi yang menjadi klien saya mengapa saya memutuskan untuk me-redesain (mengganti dan menerbitkan panduan pemakaian) tipografi logonya dengan huruf tidak berserif (waktu itu ada sekitar 4 jenis huruf serif yang dipakai secara tidak konsisten oleh berbagai
personel) semata-mata agar lebih mudah dibaca dan digunakan, bukan demi simbolisasi dan “konsep filosofis” yang pelik.

Kelihatannya, banyak orang (entah itu pencipta – desainer dan kliennya -, pengguna secara umum, atau bahkan para akademisi) mempersepsikan produk desain sebagai sesuatu yang gallery like. Objek yang didistribusikan, dan diposisikan di ruang yang lengang, dengan orang-orang yang sudah bersiap untuk berpikir, berkontemplasi, me”naksir” nilai simbolik dari objek yang ada di hadapannya.

8126481757_308da05806_b

Padahal, sebagian besar produk desain berlokasi di tempat seperti ini:

0506_book-store_400x280

Ruang (dan ruangan) dimana yang seringkali ada di sebelah objek desain bukanlah ruang kosong, tetapi objek serupa dari produsen yang berbeda. Ruang dimana ada banyak sekali objek yang saling menumpuk. Yang tidak selalu berada dalam barisan yang rapih, tertata dan terisolir.

supermercado

Ruang dengan minimal atau sama sekali tanpa penjelasan. Dengan “kurator” dan “sistem kurasi” yang lebih banyak berorientasi pada nilai-nilai pragmatik dan bahkan hedonistik. Ruang dimana berpikir, berpikir simbolik, dan berkontemplasi adalah sesuatu yang membuat anda ditegur karena menghalangi antrian pejalan kaki, pembeli, atau bahkan dianggap gila :).

Ruang dengan dinamika dan penyikapan yang jauh berbeda.

Menarik juga untuk menyimak bagaimana bias definitif ini sudah begitu terbiasakan, sehingga bahkan untuk bisa keluar dan get real – bereksperimen secara kritis dan kreatif dengan realitas yang sesungguhnya, menjadi lebih sulit diterima, dan dilakukan.

I wonder, where’s this culture of over symbolism came from, what & how much we’ve been sacrificing for this?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s