Naah, sekarang kita simak beberapa bukti berikutnya bahwa sindrom Kélor (seperti yang saya tulis bagian pertama, dan definisi ini) itu ada dan sesungguhnya sesuatu yang bias, lebay dan keliru.

Kali ini sampelnya adalah logo yang telah berpuluhan tahun, terbukti bekerja dengan baik:

Rolling Stone

rolling-stones-lips-logo
Ketika diminta untuk merancang logo grup musik, sebagian besar pelajar dan desainer yang saya tahu, mengambil simbol yang secara eksplisit berhubungan dengan musik atau permusikan. Beberapa mengambil gambar alat musik, beberapa lagi simbol-simbol permusikan seperti notasi, atau lainnya. Disini bisa keliatan betapa kreatifnya John Pasche sang desainer logo Rolling Stone ini. Alih-alih mengambil simbol-simbol eksplisit tersebut (yang kedepan mungkin akan menjadikannya kurang khas), sang desainer berfokus pada mulut dowernya mick jagger, elemen visual yang personal dan extremely rare untuk dijadikan simbol grup musik.

Yamaha

Lepas dari cerita dibalik simbol ini (tentang bagaimana perusahaan ini berusaha menghargai warisan leluhur sehingga objek metronom – yang pada dasarnya adalah simbol ketika Yamaha memproduksi hanya alat musik – tetap dipertahankan meskipun Yamaha sekarang lebih banyak memproduksi motor),  buat para pengidap sindrom Kelor, ini mungkin sesuatu yang tidak masuk akal. Ngapain ada objek metronom di logo produk otomotif?. Nyatanya, para bagi berjuta-juta pengguna produk dan merknya, logo ini asyik-asyik aja tuh.

 

Lego

        

Dengan desain produk yang sangat khas, seorang perancang yang naif mungkin akan begitu saja menerapkan atribut produk tersebut pada logo Lego. Namun, arahan desain yang berkonsentrasi pada visi dasarnya (Lego diambil dari bahasa Denmark:  leg godt, yang berarti “play well“), justru jadi strategi yang ampuh dalam menghadirkan identifikasi yang kuat, dan mudah diingat, bahkan ketika dewasa ini ada banyak sekali produk dengan desain sejenis.

 

Produsen teknologi

Ada banyak sekali sampel logo yang tidak terbayangkan (baik itu dari pengambilan objek gambar maupun kesederhanaannya) di bidang teknologi (pembaca bisa menyimak lebih banyak dari sini). Salah satu yang (dalam kacamata pengidap sindrom Kelor) bisa absurd mungkin logo Whatsapp diatas. Coba bayangkan,”bagaimana mungkin memasang gambar telepon – tahun 80an – di produk berbasis teks. Kenapa nggak pake huruf aja gitu?”.

Tapi yaa, begitu deh. Dunia perancangan logo penuh dengan cerita yang subjektif, irasional, terkadang stranger than fiction – lebih “aneh” dari yang bisa dibayangkan. Makanya harus dilalui dengan hati-hati, dan berorientasi kepada konteks, pengguna dan usabilitas, bukan hanya pada konten, produknya, dan berbagai asumsi yang bias dan lebay.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s