Saya tidak tahu dengan anda, namun sepanjang pengalaman saya menekuni desain komunikasi, banyak sekali kasus “blunder” dalam perancangan berbagai media, manajemen dan hal-hal strategis sehubungan dengan komunikasi, yang kelihatannya berakar dari definisi – atau tepatnya persepsi kita mengenai definisi komunikasi yang terlalu sempit, hanya sebagai “proses penyampaian pesan/informasi dari komunikator ke komunikan”.

Maksud saya, definisi ini memungkinkan banyak media media dan strategi komunikasi dirancang satu arah – dengan memposisikan pengguna sebagai objek, bukan subjek yang aktif. Padahal, komunikasi itu selalu bersifat interaktif – dua arah, dan (re)kreatif.

Ambil contohm ketika seorang sales kartu kredit di super market misalnya, menyapa dan menyampaikan pesan penjualan kepada seseorang calon pembeli. Ketika sales tersebut menyampaikan sederetan informasi – mencoba untuk berkomunikasi – tidak lantas sebuah komunikasi terjadi. Orang yang diajak bicara mungkin melengos, menepi atau bahkan menghindar. Sama seperti ketika seorang penceramah atau pengajar berceramah di depan kelas, sebuah iklan, atau media-media komunikasi lainnya dirancang dan didistribusikan, tidak lantas karena seseorang mengirimkan informasi, maka akan selalu terjadi komunikasi. Banyak pendengar ceramah tidak menyimak, tertidur, atau melayangkan pikirkan ke tempat lain, banyak penonton televisi mengganti channel begitu sebuah iklan diputar dan banyak media brosur, newsletter dan lainnya dibuang begitu selesai dibaca.

Definisi ini juga – melalui fokusnya pada “penyampaian informasi” – menutup akses terhadap konteks yang lebih luas dan sangat penting dalam mengenali dan memahami komunikasi sebagai sesuatu yang kreatif (bukan hanya produktif): menghasilkan pemahaman, pengalaman, prilaku, aksi, kebiasaan baru.

Banyak, dan mungkin sebagian besar proyek desain media-media komunikasi (entah itu, desain media promosi, marketing, sales atau identitas) dianggap selesai ketika media tersebut selesai dirancang, dan diproduksi, dan didistribusikan. Padahal, tidak lantas ketika media komunikasi didistribusikan, maka dampaknya akan selalu sesuai dengan yang direncanakan, dan bahkan bila dampaknya pun dirasa positif, ada banyak sekali faktor yang berperan, yang ketidak cekasan dalam mengenali berbagai faktor ni dapat mengundang banyak sekali bias.

Melalui definisi ini, banyak pekerja komunikasi, bahkan ketika komunikasinya dirasa berhasil (menghasilkan kenaikan penjualan, brand awareness, dan lain sebagainya) tidak mengetahui persis sebelah mana dari desain media yang paling berpengaruh, apakah itu warna, struktur/layout, topografi, copywriting, dsb, atau distribusi dan strategi komunikasi secara keseluruhan. Bukan hanya itu, motivasi, strategi dan perencanaan mengenai pengukuran berbagai hal yang berkaitan dengan dampaknya itu pun menjadi out of radar. Membicarakannyapun menjadi sesuatu yang tidak “normal”. Karena buat apa tho? Kalau pesannya sudah disampaikan, pertanyaan mengenai apakah pesan tersebut benar-benar “sampai”, apakah pesannya difahami oleh pengguna, atau bagian mana dari pesan yang difahami dan bagian mana yang tidak, bukan lagi sesuatu yang relevan bukan?

Ini definisi yang terlalu sempit, (semakin) tidak realistik, dan kelihatannya tidak akan membawa kita kemana-mana selain kedalam pusaran “blunder”, dan berbagai praktek yang keliru. Yang mungkin tanpa disadari, mengurangi peluang untuk mendapatkan profit lebih dari perspektif komunikasi yang lebih luas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s