Bukan hanya How to Make (1)

the-isolator-640x539
The Isolator, a helmet for encouraging concentration. More here

 

B

agian paling sulit dari desain (dan kreatifitas), sepanjang pengalaman dan pengamatan saya bukanlah mengenai How to make atau bagaimana membuat sesuatu.  Mekanisme, tahapan, atau bahkan panduan mengenai hal tersebut sudah begitu banyak, dan saat ini bukan sesuatu yang benar-benar masalah. Ketikkan keyword di mesin pencari dan, voila!, berbagai informasi mengenai pembuatan ada di ujung jari (+ google translate, bila anda kesulitan memahaminya dalam bahasa Indonesia 🙂 ). Jika saat ini pun anda – setidaknya – adalah desainer madya (yang sudah melalui beberapa tahun berkarir), anda tahu benar, memvisualkan, atau merangkai visual tertentu seringkali hanya butuh waktu lebih sedikit dari keseluruhan proses yang dibutuhkan.

Bagian paling sulitnya adalah, “Mau bikin apa”, atau “mau dibikin seperti apa desainnya emang?”.

Read more

Berpikir kreatif vs menjadi kreatif

Banyak orang memandang kreatifitas sebagai serangkaian kemampuan berpikir. Diluar kebiasaan, otentik, divergen (menyebar), holistik, dan lainnya. Dalam perjalanannya menjadi kreatif, orang-orang kemudian mengasosiasikan berpikir kreatif sebagai bagian paling penting didalam kreatifitas. Bahwa kalau saya ingin menjadi menjadi kreatif maka saya harus sedemikian rupa me”maksa” pikiran saya agar berpikir kreatif, seperti itu.

Beberapa ada yang survive, kebanyakan ber”gelimpangan”. Terlalu tenggelam di dalam pikiran so-called creative, sehingga bahkan menjadi tidak (atau kurang) kreatif, atau bahkan traumatis dengan kreatifitas. Berkeringat, bereaksi berlebihan, dan atau gentar begitu mendengar hanya istilahnya saja.

Kenapa bisa begitu? Read more

CEO vs Anak TK, siapa yang bisa membangun menara paling tinggi?

Beberapa grup desainer, arsitek, CEO (dan staff eksekutifnya), lawyer, alumni sekolah bisnis dan anak-anak TK diminta untuk melakukan tantangan sederhana: dalam waktu 18 menit membangun menara setinggi mungkin dari 20 batang spaghetti, satu gulung benang, satu gulung selotip dan satu buah marshmallow (untuk ditempatkan di puncaknya). Siapa yang jadi pemenang dan seperti apa dinamika pencapaiannya?

Read more

Setiap harinya, seorang anak menanyakan rata-rata 390 pertanyaan

100, 390 , 40, ada beberapa versi mengenai jumlahnya namun lepas dari itu – seperti yang dirasakan oleh semua orang tua di dunia ini – anak-anak itu banyak bertanya. Benak mereka itu penuh dengan rasa ingin tahu yang jujur dan bersungguh-sungguh.

Begitu menginjak dewasa, bersekolah (beberapa kali menempuh pendidikan formal), berorganisasi, mendapatkan eksposur dari berbagai media, bekerja (dan somehow memberikan kontribusi terhadap angkatan kerja, ekonomi, politik dan lain sebagainya), pertanyaan tersebut berkurang (beberapa bahkan menghentikannya). Mungkin karena mereka sudah menemukan jawabannya, mungkin karena mereka tidak berani, mungkin karena mereka tidak percaya diri, tidak merasa lagi bertanya dan mempertanyakan sebagai sesuatu yang penting, sesuatu yang berharga.

Dalam waktu bersamaan, banyak bisnis mengeluhkan hilangnya kreatifitas dalam angkatan kerja, berbagai organisasi mengeluhkan mengenai minimnya semangat dan populasi intrepreneur, banyak pengajar mengeluhkan semakin sedikitnya motifasi untuk belajar, banyak orang tua mengeluhkan betapa anak-anaknya sulit berpikir kreatif dalam bekerja atau mengembangkan kesejahteraan.

Bisa kelihatan hubungannya?

 

Counter bully

Let’s face it. Budaya konformitas kita punya banyak sekali cara untuk mematikan semangat, hasrat dan prilaku kreatif – secara halus maupun eksplisit. Beberapa klien saya (secara halus) melabeli prilaku saya sebagai “egois” (huh!). Jauh-jauh hari sebelum itu, sewaktu kecil – SMP, SMU, kuliah –  setiap orang saya kira punya pengalaman – entah itu dari teman, atau keluarga – dimana prilaku yang berbeda kemudian dilabeli sebagai sesuatu yang “egois”, “sok tahu”, “sok mandiri”, atau lain sebagainya.

Pelabelan yang pada dasarnya adalah over react (bereaksi berlebihan), dan seringkali adalah Bully psikologis (mental) ini membuat banyak orang terkondisikan sedemikian rupa agar”play save”. Meng”aman” dan memadamkan kreatifitas mereka dan menurunkan keyakinan, dan kepercaya dirian kreatif (creative confidence), bagian paling penting dan pada dasarnya adalah pondasi pertumbuhan kreatifitas dari setiap orang.

So, jika didalam usaha anda untuk menjadi (lebih) kreatif seseorang menanggapi anda melalui bahasa tersebut, siapkan counternya, misal:

-. “Ah, dasar kamu mah egois.”
+. “Biarin gua egois, daripada elu munafik. Sok melayani orang padahal buat kepentingan lu sendiri.”

-. “Sotoy (sok tahu) lu ah.”
+. “Biarin gwa sotoy, daripada elo pelit. Punya ilmu/ informasi disimpen sendiri.” Read more

Document of the week: Valve’s handbook for new employee

Ketika sebuah organisasi tumbuh, pada dasarnya ada lebih banyak alasan bagi separasi, atau keterpisahan. Seseorang dan atau/ sebuah departemen bida dengan lebih mudah – entah itu dengan alasan kesibukan atau lainnya – tidak kenal dengan orang se-organisasinya, atau bahkan tidak acuh. Situasi yang seringkali memberikan kontribusi terhadap berkembangnya berbagai praduga, miskomunikasi, ketidak kompakan, kekurang efisienan dan sinergi.

Alih-alih membuat diagram organisasi ala militer, memasangnya somewhere diantara dinding kantor dan begitu saja membiarkan setiap orang pekerja baru tenggelam didalam “hutan belantara” organisasi, Valve, developer games kahot, meresponnya dengan kreatif, menerbitkan dokumen yang bukan hanya – setidaknya dapat dijadikan panduan kerja sebelum bertemu dengan narasumber “insider” dengan informasi yang lebih lengkap – namun juga menarik untuk dipelajari melalui ilustrasi dan bahasa yang tidak kaku.

Silahkan disimak dari sini: Valve’s handbook for new employees.

valve-handbook_cover Read more

Untuk rekan-rekan super kecil kita yang sangat berguna: Terima Kasih

“Saat itu saya pikir dia gila,” kata Andrew Goldberg, direktur bedah sinus dan rhinology (bidang kedokteran yang mempelajari per-hidung-an) ketika menceritakan pengalamannya mengobati salah satu pasien pengidap infeksi telinga.

Tahun 1986 itu Andrew muda tengah residensi (praktek magang) kedokteran di UPSM (University of Pittsburgh School of Medicine), ketika seorang pasien pengidap infeksi telinga datang ke kliniknya. Pasien tersebut mengidap infeksi di salah satu telinga. Berbagai penganganan standar dilakukan, berulang kali, namun infeksinya tak kunjung sembuh. Sampai suatu ketika sang pasien datang, sumringah karena pendengarannya membaik, dan (sesudah dipersiksa) memang infeksinya pun sudah hilang.

“Mau tahu gimana gimana cara saya menyembuhkannya?”, tanya sang pasien kepada Andrew yang terheran-heran.  Read more