Bookmark tulisan ini, sehingga bila ini terjadi pada anda, team desain, atau proyek desain anda, anda bisa langsung ingat, sadar dan saling menyadarkan. Mudah-mudahan.

Sampel-sampel di bawah ini sebagian kecil saja dari banyak sekali desain kemasan produk yang telah eksis dan dikonsumsi puluhan tahun oleh masyarakat umum yang pada dasarnya menunjukkan kebalikan dari sindrom Kélor:


Ultra Milk – Plain flavour

Ultra-Milk-Plain-1-Lt
Kata siapa karena warna susu itu putih maka kemasannya selalu harus berwarna putih? produk rilisan Ultra Jaya ini membuktikan sebaliknya. Warnanya didominasi biru muda, dengan sedikit bidang putih (pada gambar sapi). Ultra Jaya ini mengeluarkan produk dengan kemasan putih untuk susu low fat, tapi dibanding plain, yang low fat ini relatif lebih baru.

Oreo dan Cadbury

oreo_strawberry

cadbury
Sejak pertama didagangkan, kedua produk ini tidak merasa perlu untuk mengangkat warna coklat dan putih yang mendominasi produknya – kedalam kemasan. Meskipun foto produk selalu ada, kemasannya didominasi justru oleh warna biru (untuk Oreo) dan Ungu (untuk Cadbury). And you know what? keduanya adalah snack paling favorit di abad ini.

Cleo

cleo product

cleo-di-rak
Cleo, dengan kemasan orange ketika berada di rak

Produk ini mematahkan persepsi bahwa kemasan air harus selalu berwarna biru atau kebiruan. Sejak pertama dibikin, Cleo mengambil warna yang justru sangat bertolak belakang: orange.
Kontras yang sangat menolong pengidentifikasian ketika pengguna setengah mati berusaha mencari di rak pajang air yang sebagian besar berisi kemasan berwarna biru atau kebiruan.

Blue Band

bluebandBBM 500g 450x450_tcm96-337767
Ini bahkan lebih absurd lagi. Kok bisa ya ngasih nama “Blue band” untuk margarin yang notabene warnanya kekuningan. Namanya yang unik ini bahkan bikin kemasannya yang biru jadi tidak kalah “aneh”nya. Biru, untuk kemasan margarin yang berwarna kuning. Kok bisa ya?

Yah guys, kenapa nggak bisa? masalahnya bukan di produk-produk, layanan atau merk itu. Masalahnya ada di pikiran kita para makers, yang menyangka kalau yang kita rancang dibalik layar komputer itu selalu sesuatu yang logis, rasional dan “seperti apa yang bisa dipikirkan”. Nyatanya, yang terjadi bisa sangat “out of the box”. Lebih kaya dan dinamis daripada yang terpikirkan.

So, jangan ragu untuk berinovasi dan bikin sesuatu yang beda, dan cari cara supaya bisa belajar langsung dari lapangan – bukan hanya dari buku, teori atau bahkan asumsi. Karena bukan hanya dunia, desain pun tidak pernah selebar daun kélor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s