Kélor syndrome / Sindrom Kélor adalah istilah untuk menandai satu situasi ketika seseorang mempersepsikan sesuatu dalam kemungkinan yang sempit, over generalistik, dan bersifat absolut (menetap atau akan selalu begitu). Ini idiom bikinan saya sendiri – Fahmi – yang dikembangkan dari pepatah Indonesia “Dunia tidak selebar daun kelor”, dengan arti yang kurang lebih sama.

Misal: Karena banyak kursi itu berkaki empat, seseorang yang terkena Sindrom Kélor dapat menyangka semua kursi itu berkaki empat – dan harus selalu berkaki empat. Nyatanya, meskipun memang sebagian besar kursi berkaki empat, tidak semua kursi itu berkaki empat. Banyak kursi, mempunyai kaki kurang dari empat,

Kursi (dan meja) berkaki tiga
Kursi (dan meja) berkaki tiga
Kursi berkaki dua
Kursi berkaki dua
kursi (dan meja) berkaki satu
kursi (dan meja) berkaki satu
kursi tidak berkaki, alias kursi gantung
kursi tidak berkaki, alias kursi gantung

dan ada juga kursi berkaki lebih dari empat.

kursi berkaki lima
kursi berkaki lima
kursi berkaki sepuluh
kursi berkaki sepuluh
Kursi berkaki, ehm... itung sendiri deh
Kursi berkaki, ehm… itung sendiri deh

Dengan kata lain, tidak selalu, dan tidaklah benar anggapan bahwa kursi itu sesuatu dengan empat kaki, ada kualitas-kualitas lain untuk dipertimbangkan selain jumlah kaki agar sesuatu bisa dinamai “kursi”.

Dalam desain, seringkali sindrom ini berjalan berdampingan dengan sindrom lain, seperti over simbolisme – usaha berlebihan untuk menghadirkan makna simbolik kedalam satu objek desain.

Misal:

  1. karena susu berwarna relatif putih maka warna kemasan dari produk susu haruslah selalu putih. Ini sesuatu yang keliru, bukan hanya karena pada dasarnya tidak semua kemasan susu berwarna putih – dan tidak ada satu hukum pun yang menjamin bahwa kemasan produk susu harus berwarna putih-, namun karena nilai simbolik hanyalah salah satu faktor saja diantara banyak faktor lain didalam kemasan. Faktor kemudahan identifikasi (bagaimana calon pengguna bisa mudah mendapatkan kegunaan produk), ergonomi (bagaimana identifikasi ini berhubungan dengan faktor fisiologis dan human functioning), keamanan/ keterlindungan dari produk itu sendiri, durabilitas (ketahanan), dan lain sebagainya.Menghadirkan nilai simbolik antara produk susu dan kemasannya melalui faktor warna – bila tidak diproses secara seksama – bisa menjadi redundant (berlebihan/ mubadzir), karena tidak semua pengguna membutuhkan dan mengharapkan adanya asosiasi simbolik secara khusus antara kemasan dan produknya. Ini bahkan bisa menyulitkan proses penggunaan ketika produk susu yang dirancang dengan kemasan putih tertentu berada ditengah lautan kemasan produk lain yang juga berwarna – putih.
  2. ini sering terjadi dalam kasus logo, misal: karena satu merk berkonsentrasi pada bisnis komputer, maka logo dari merk tersebut haruslah bergambar komputer – atau sesuatu yang secara eksplisit berhubungan dengan komputer. Ini persepsi yang keliru, bukan hanya karena tidak semua logo membutuhkan gambar (lihat topologi brand visual identity dari Alina Wheeler, atau materi presentasi yang satu ini ), namun juga karena simbolisasi – prilaku mental untuk menghadirkan nilai yang tidak secara langsung antara sesuatu dengan lainnya – hanyalah salah satu saja faktor yang mendasari penggunaan logo. Banyak pengguna melakukan sangat sedikit – atau bahkan tidak sama sekali – asosiasi simbolik terhadap satu logo. Hubungan antara pengguna terhadap satu logo tertentu lebih banyak didasarkan pada faktor identifikasi ketimbang simbolik. Meskipun dalam kasus produk atau merk tertentu, pengguna mungkin melakukan asosiasi simbolik (dengan menganggap keberadaannya sebagai simbol status sosial, ekonomi, atau lain tertentu), namun ini bukanlah sesuatu dengan kualitas yang absolut, terjadi di semua merk dan semua pengguna.Sama seperti dalam kasus kemasan di atas, usaha untuk menghadirkan nilai simbolik dalam produk tertentu – bila tidak dilakukan secara seksama – bisa mendegradasi penggunaan, ketika misalnya pengguna menjadi sulit mencari, mendapatkan, atau merekomendasikan satu merk tertentu diantara merk komputer lain yang notabene bergambar komputer atau objek yang secara eksplisit berhubungan dengan komputer.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s