Usage warranty:
Saya tidak sedang menyarankan penggunaan dan tidak bertanggung jawab terhadap replikasi penggunaan teknik ini oleh siapapun. Obat yang saya gunakan di cerita ini adalah obat yang diresepkan oleh dokter untuk diminum oleh anak saya.

Ini cerita sekitar dua tahun yang lalu. Ketika dede Tea berusia sekitar dua tahunan.

Waktu itu ceritanya dede Tea sakit. Batuk-batuh dan ileran. Kami membawanya ke dokter dan dokter memberikan beberapa obat, salah satunya adalah obat batuk sirup.

Obat batuk sirup ini adalah sejenis obat batuk dengan tampilan yang “sangat medis”. Dibungkus dalam botol kaca berwarna coklat berukuran sedang, ditutup kaleng putih berlogo produsen obat, dengan label kertas putih yang tidak ada elemen lain selain teks dan garis. Persis seperti sebuah tabel yang ada di label-label obat berpenampilan “medis” lainnya.

obat-01
Kurang lebih kayak obat-obat ini deh, tampilannya.

Kami percaya dengan obat dan dokter yang meresepkannya (ini dokter langganan kami). Masalahnya, dede Tea tidak mau meminumnya. Setiap kali dipanggil, dia akan menghindar – melanjutkan main sambil batuk-batuk dan ileran – dan kalaupun bisa ditangkap, dan berusaha “dipaksa” malah menangis – hal yang bisa menyulut naiknya suhu tubuh (demam).

Oh la la. What’s wrong? Apa yang harus dilakukan?

Sebetulnya, obatnya sama sekali tidak pahit – ada sedikit bau obat, tapi rasanya manis asem begitu. Ini bikin saya berpikir mungkin masalahnya bukan di rasanya. Mungkin ada di kemasan, bagaimana tampilan seperti itu menampakkan sisi “brutal” dari apa yang disebut sebagai obat, dan bagaimana “obat” itu sendiri punya konotasi yang tidak familiar di benak anak saya. Saya ingat di beberapa minggu sebelumnya, dede tea pernah makan vitamin dalam bentuk gel dengan suka cita – sama sekali tidak usah dipaksa-paksa seperti ini. Vitamin itu, memang dikemas jauh berbeda. Bukan hanya dalam bentuk gel, yang empuk, bisa di”main”kan oleh lidah, dan lebih familiar untuk lidah anak, namun juga dikemas dalam kemasan botol berlabel yang lebih atraktif, di dalam kemasan kertas yang tidak kalah berwarnanya. Masing-masing diisi dengan gambar, background dan elemen grafis yang berwarna. Lebih memanjakan visual.

Aha!. Saya bersepakat dengan istri untuk mencoba cara sederhana, yang pada dasarnya adalah sebuah proyek untuk membuat anak saya mempersepsikan sirup tersebut bukan sebagai obat.

Saya cari botol vitamin tersebut, ketemu, namun tutupnya punya ukuran yang beda sehingga tidak bisa digunakan (kalau dipaksakan takut tumpah). Saya putuskan untuk memakai hanya labelnya saja. Labelnya saya buka, dan – berhubung waktu itu tidak ada selotip atau lem plastik untuk merekatkannya – saya pegang begitu saja, menutupi label asli bawaan obat yang sebelumnya.

Istri saya memanggil dede Tea. Kali ini bukan dengan panggilan,”minum Obat,” tapi,”Dede, ayah punya permen.” Nampaknya berhasil. Dede Tea tidak berusaha menghindar, bahkan nyamperin (bukti lain kalau anak-anak lebih familiar dengan “permen”, ketimbang “obat”). Lalu, dengan sedikit menutupi kaleng penutup botol (supaya tidak terlalu kentara bahwa itu adalah obat yang sebelumnya ditawarkan), dan membuka jari tangan agar label baru bisa lebih terlihat, saya menghampiri dengan sesendok obat yang sudah dikeluarkan – kali inipun tidak memakai sendok obat. Agak gugup, karena jari tangan saya mencengkram botol dan tutupnya dalam posisi yang tidak ergonomis. Takut ketahuan. Saya bisa merasakan mata dede Tea memindai botol – label botol tepatnya. Detik-detik yang menegangkan. Deg, deg, deg (alah).

Ajaib, tidak ada perlawanan sedikitpun. Dede Tea mau membuka mulutnya “voluntarily”, dengan sukarela. Dan bahkan sambil ketawa. Tidak ada kesulitan. Mission accomplish.

Saya membayangkan kemungkinan lain untuk mengganti sama sekali kemasan botol kedalam botol lain yang lebih menarik, bukan hanya labelnya saja. Tapi Alhamdulillah, sampai hari ini pemaksaan tersebut tidak lagi terjadi. Saya tidak tahu apakah itu ada pengaruhnya dari “percobaan” yang dulu sempat lakukan. Seringkali bahkan bila sakit, dede Tea sendiri yang meminta untuk minum obat.

Yang jelas, betul banget para pakar komunikasi dan peneliti persepsi itu, bahwa bagaimana seseorang berinteraksi dengan informasi baru (dan melakukan perubahan prilaku) tidak hanya ditentukan oleh informasinya, namun juga bagaimana informasi tersebut ditangkap, dan dipersepsikan oleh calon penggunanya. Se-baru dan se-berguna apapun informasi, kalau seseorang tidak dapat melihatnya sebagai sesuatu yang worthed, tidak “nyambung” dengan apa yang dipersepsikan oleh calon pengguna mengenai apa yang bisa disebut menarik dan apa yang tidak, itu tidak akan dapat menggerakkan apa-apa. Bahkan pemaksaan interaksi – dimana calon pengguna dimasukkan kedalam situasi dimana dia tidak dapat merasa mengontrol interaksi dengan satu informasi – mungkin hanya akan menghasilkan efek trauma yang dalam.

Disinilah tepatnya teknik “framing”, desain visual, dan kreatifitas berperan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s