Kélor Syndrome: a counter showcase (part-1)

Bookmark tulisan ini, sehingga bila ini terjadi pada anda, team desain, atau proyek desain anda, anda bisa langsung ingat, sadar dan saling menyadarkan. Mudah-mudahan.

Sampel-sampel di bawah ini sebagian kecil saja dari banyak sekali desain kemasan produk yang telah eksis dan dikonsumsi puluhan tahun oleh masyarakat umum yang pada dasarnya menunjukkan kebalikan dari sindrom Kélor:

Read more

Kélor what?

Kélor syndrome / Sindrom Kélor adalah istilah untuk menandai satu situasi ketika seseorang mempersepsikan sesuatu dalam kemungkinan yang sempit, over generalistik, dan bersifat absolut (menetap atau akan selalu begitu). Ini idiom bikinan saya sendiri – Fahmi – yang dikembangkan dari pepatah Indonesia “Dunia tidak selebar daun kelor”, dengan arti yang kurang lebih sama.

Misal: Karena banyak kursi itu berkaki empat, seseorang yang terkena Sindrom Kélor dapat menyangka semua kursi itu berkaki empat – dan harus selalu berkaki empat. Nyatanya, meskipun memang sebagian besar kursi berkaki empat, tidak semua kursi itu berkaki empat. Banyak kursi, mempunyai kaki kurang dari empat,

Read more

The context that define content

Banyak so-called creator dan para pembelajar membayangkan desain sebagai sesuatu yang berorientasi konten. Bahwa desain itu adalah pekerjaan yang diawali, dan diakhiri dengan menghadirkan informasi, gagasan, konsep kedalam satu material, media, sebuah objek melalui sebuah peralatan (komputer, internet, software, dsb) dan teknik produksi tertentu. Meskipun memang benar bahwa desainer memerlukan peralatan, ketrampilan, dan pengetahuan mengenai berbagai teknik visualisasi, seperti juga desainer harus mengetahui apa informasi produk, layanan atau permerekan sehingga dapat membuat media-media yang relevan, namun membayangkan proses pengembangan konten tersebut sebagai sesuatu yang isolated, berfokus hanya pada apa yang berada didalam pikiran para kreator dan dianggap beres begitu pikiran para kreator ini di”tumpah”kan bisa memicu defisit, ketidak singkronan dengan permasalahan, kebingungan, dan dehumanisasi.

Dua literatur yang saya rekomendasikan untuk memperkaya pengetahuan, menginspirasi gagasan dan juga aksi mengenai konteks dan konten ini. Silahkan disimak:

Why We Buy, The Science of shopping

by Paco Underhill

A light hearted book of shopping science. Buku yang melalui berbagai fakta yang dikumpulkan oleh periset retail Paco Underhill (melalui perusahaannya Envirossel) secara cermat menerangkan mengenai bagaimana kita berbelanja, melakukan interaksi dengan produk, dengan desain, right on site. Buku ini tidak hanya menjelaskan banyak fakta yang berkaitan dengan berbagai detail mengenai desain dan interaksi didalam toko (dan bagaimana hal tersebut berhubungan dengan penjualan) – dengan satu bab khusus membahas mengenai desain sign system – tapi juga mengenai mindset seperti apa yang seharusnya setiap kreator punyai agar produk, layanan dan mereknya dibeli dan dicintai oleh lebih banyak pengguna.

Read more

Bagaimana membuat pengguna berinteraksi dengan satu informasi? cerita dibalik desktop, GUI dan personalisasi komputer

Bila sekarang ini adalah tahun 50-an, mungkin nggak akan kebayang kalau anda membaca tulisan ini melalui komputer. Di tahun-tahun tersebut apa yang disebut sebagai komputer adalah sesuatu yang berukuran besar, luar biasa ribet, dan mahal, sehingga hanya organisasi-organisasi besar seperti universitas, perusahaan dan pemerintahanlah bisa mendapatkannya.

Harvard Mark I, komputer hasil kerjasama Universitas Harvard dan IBM, yang dibuat atas pesanan militer pada tahun 1944. Komputer programmable (dapat diprogram ulang – sebelumnya tidak dapat diprogram ulang) pertama buatan Amerika. Berbobot 5 ton, dengan dengan total kabel sepanjang kurang  lebih 85 ribu km, dengan total 3/4 juta komponen, sebagiannya adalah suku cadang mekanis. Dapat menyimpan hanya 72 angka saja.

Dan meskipun penemuan microprocessor di sekitar tahun 60-an memungkinkan beberapa ilmuwan dan pebisnis komputer untuk membayangkan keberadaan komputer sebagai sesuatu berukuran kecil, yang dapat dibeli dengan harga rendah dan dipakai untuk fungsi-fungsi  personal, ini adalah sesuatu yang lebih mudah dibayangkan ketimbang dieksekusi.

intel 4004, 1971. Unit yang menyingkat pemrosesan komputer kedalam micro processor (pemroses berukuran mikro), hanya seukuran jari jempol.
intel 4004, 1971. Unit yang menyingkat pemrosesan komputer kedalam micro processor (pemroses berukuran mikro), hanya seukuran jari jempol.

Pada dasarnya menggubah sesuatu yang sudah terasosiasikan selama berspuluh-puluih tahun memang tidak mudah. Dalam konteks personaliasi komputer, ini membutuhkan bukan hanya pemilihan, penyusutan dan pengkonversian berbagai fungsi mesin – yang juga adalah penyesuaian hardware, material dan lain sebagainya – namun ini juga penggeseran mindset. Coba anda bayangkan, bilapun disaat itu anda sudah mengetahui bahwa komputer sudah dapat diperkecil sehingga dipakai dirumah dan dibeli dengan harga terjangkau, tidak dengan lantas anda merasa perlu mengunakannya bukan? Tidak semua orang merasa familiar dengan teknologi baru tersebut. Bagaimana saya bisa menggunakannya? Sesulit apa? Apa saja effort yang harus saya keluarkan sesudah saya membelinya? Does it worthed? Read more

Label Replacement project -Bagaimana membuat anak mau minum obat tanpa terpaksa

Usage warranty:
Saya tidak sedang menyarankan penggunaan dan tidak bertanggung jawab terhadap replikasi penggunaan teknik ini oleh siapapun. Obat yang saya gunakan di cerita ini adalah obat yang diresepkan oleh dokter untuk diminum oleh anak saya.

Ini cerita sekitar dua tahun yang lalu. Ketika dede Tea berusia sekitar dua tahunan.

Waktu itu ceritanya dede Tea sakit. Batuk-batuh dan ileran. Kami membawanya ke dokter dan dokter memberikan beberapa obat, salah satunya adalah obat batuk sirup.

Obat batuk sirup ini adalah sejenis obat batuk dengan tampilan yang “sangat medis”. Dibungkus dalam botol kaca berwarna coklat berukuran sedang, ditutup kaleng putih berlogo produsen obat, dengan label kertas putih yang tidak ada elemen lain selain teks dan garis. Persis seperti sebuah tabel yang ada di label-label obat berpenampilan “medis” lainnya.

obat-01
Kurang lebih kayak obat-obat ini deh, tampilannya.

Kami percaya dengan obat dan dokter yang meresepkannya (ini dokter langganan kami). Masalahnya, dede Tea tidak mau meminumnya. Setiap kali dipanggil, dia akan menghindar – melanjutkan main sambil batuk-batuk dan ileran – dan kalaupun bisa ditangkap, dan berusaha “dipaksa” malah menangis – hal yang bisa menyulut naiknya suhu tubuh (demam).

Oh la la. What’s wrong? Apa yang harus dilakukan? Read more

Audiens menghafal logo, bukan memikirkannya

Menghafal berbeda dengan memikirkan.  Ketika kita menghafalkan sesuatu, wajah seseorang misalnya, meskipun kita mungkin – dalam level tertentu – memikirkannya, sebagian besar kita lakukan tanpa sadar. Kita bisa tetap tidak mengerti mengapa dan bagaimana seseorang bisa memiliki wajah seperti itu.

On the other side, Ketika kita memikirkan sesuatu, kita melakukannya secara sadar. Ketika kita memikirkan wajah seseorang, kita mengakses berbagai data yang kita miliki mengenai hal tersebut, mengerahkan berbagai instrumen berpikir kita, sebagian besar secara sadar. Read more

Bagaimana mungkin seorang anak yang belum bisa membaca bisa memilih playlist?

Hari itu ceritanya, sesudah mandi dede Tea (nama anak saya, umurnya 4 tahun) ingin memainkan video Hi-5 kesukaannya. So, dia mengambil tablet dan menyalakannya. Saya memperhatikan diam-diam sambil melakukan hal lain.

Seperti biasa, begitu tablet dihidupkan dia bertemu dengan banyak ikon.

shot_000001

Dede Tea menggeser layar, mencari ikon pemutar video, dan menyentuhnya dua kali begitu menemukannya.Tidak ada thumbnail di aplikasi pemutar video tersebut. Yang ada hanyalah barisan teks yang tersusun berurutan. Alfabetis, dari atas ke bawah. Dede Tea nampak menggeser layar ke bawah.

tampilan pemutar video, yang ada hanya teks.
tampilan pemutar video, yang ada hanya teks.

“Dede lagi nyari lagu apa?” tanya saya. Sambil membathin,”gimana caranya dia bisa milih, baca aja belum bisa?“.

“Star”, jawab dede Tea, lantang.

Oya, Sebetulnya lagu yang dicarinya itu judulnya “Wish Upon A Star”, tapi dede Tea lebih sering memanggilnya sebagai “Star”, begitu saja. Karena lebih praktis mungkin.

“Yang ini nih,” katanya lagi, sambil meng-klik dua kali. Dan benar, video Hi-5 muncul, dan mulailah dede Tea menari-nari mengikuti koreografi sang presenter.

“Dede Tea tau dari mana yang tadi di teken itu lagu Star?”, tanya saya tercengang. “Kan ibu yang kasih tau”, jawabnya.”Lho, tapi dede Tea kan belon bisa baca?”, selidik saya. Habis, penasaran. Banget.

Tapi yah, gitu deh. Pada dasarnya memang nggak akan mungkin bisa menginterogasi anak seumuran itu. Pertanyaan saya nggak digubris, dede Tea sibuk, asyik jingkrak-jingkrak.

Bagaimana mungkin seorang anak yang belum bisa membaca bisa memilih playlist?

Read more